Menakar potensi reverse stock UNSP



JAKARTA. PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) akhirnya mengantongi restu menggelar reverse stock setelah tiga kali rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB). Emiten ini akan reverse stock dengan rasio 10:1.

Jadi, nantinya 10 saham UNSP dengan nilai nominal Rp 100 akan digabung menjadi satu saham dengan nilai nominal Rp 1.000. "Reverse stock dibutuhkan untuk keberhasilan restrukturisasi utang dan perbaikan fundamental yang diharapkan dapat meningkatkan nilai perusahaan dan pemegang saham," kata Andi Setianto, Direktur dan Investor Relations UNSP, Senin (20/2).

Sebelumnya, UNSP sempat menggelar dua kali Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Kedua RUPSLB ini tak memenuhi kuorum sehingga emiten kebun ini memutuskan melaksanakan RUPSLB ketiga.


Dalam RUPSLB ketiga, UNSP hanya perlu kehadiran 19% pemegang saham untuk mencapai kuorum. Kemarin, sekitar 20,3% pemegang saham hadir sehingga RUPSLB mencapai kuorum.

Dari jumlah pemegang saham yang hadir, sebanyak 87,1% pemegang saham menyetujui reverse stock. Sisanya memilih abstain dan tidak setuju. "Kami akan selesaikan secepatnya di semester satu," kata Andi.

Usai reverse stock, UNSP akan merestrukturisasi utang. Produsen CPO ini akan fokus untuk mengurangi beban bunga yang memapas laba. Andi bilang, biaya bunga UNSP mencapai Rp 600 miliar per tahun. Dalam sembilan bulan pertama tahun lalu saja, UNSP membayar beban keuangan Rp 563,94 miliar. Andi berharap pihaknya dapat mengurangi 50% biaya bunga.

Andi mengaku, pihaknya masih menggodok opsi penambahan modal. Andi bilang ada opsi seperti rights issue dan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu.

Editor: Yudho Winarto