Menakar Prospek dan Rekomendasi Emiten Holding Investasi di Tengah Volatilitas Pasar



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten holding investasi diproyeksikan tertekan di tengah volatilitas pasar modal saat ini setelah pengumuman MSCI yang membuka konsultasi perubahan klasifikasi pasar Indonesia.

Sejumlah emiten investasi diketahui menggenggam saham blue chip yang harganya ikut terkoreksi dalam.

Misalnya, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) diketahui menggenggam saham PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). 


Baca Juga: Kinerja Emiten Holding Investasi Masih Lesu, Simak Prospeknya di Semester II 2026

Melansir RTI per Jumat (23/10), saham TBIG dan MDKA masing-masing turun 59,14% dan 3,95% sejak awal tahun alias year to date (YTD). Sementara, ADRO dan AADI justru tercatat naik masing-masing 35,91% dan 63,08% YTD.

Sebagai gambaran, SRTG mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 3,87 triliun pada semester I 2026 akibat kerugian neto investasi saham dan efek lainnya senilai Rp 4,83 triliun, meskipun pendapatan dividen serta bunga tumbuh 31,51% secara tahunan menjadi Rp 1,69 triliun.

Investor Relations Saratoga Mellisa Holidi mengatakan, di tengah volatilitas pasar saat ini, SRTG tetap konsisten menjalankan strategi investasi jangka panjang yang berfokus pada penciptaan nilai berkelanjutan melalui optimalisasi portofolio, efisiensi operasional, dan penguatan strategi di seluruh perusahaan portofolio. 

Aksi divestasi juga disebut merupakan bagian dari kegiatan pengelolaan portofolio rutin SRTG untuk merealisasikan nilai portofolio secara optimal. 

Baca Juga: Intip Nasib Emiten Danantara di Pusaran Gejolak Pasar dan Ketidakpastian Kebijakan

“Keputusan tersebut didasarkan pada perhitungan strategi jangka panjang yang terukur demi memberikan nilai tambah berkelanjutan bagi pemegang saham,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (23/10/2026).

SRTG sayangnya belum memaparkan realisasi anggaran investasi per kuartal III 2026 dan akan memublikasikannya bersamaan dengan rilis laporan keuangan di periode ini mendatang.

Mellisa menegaskan, SRTG masih didukung posisi kas dan fasilitas pinjaman bank yang memadai dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, disiplin valuasi, serta kualitas fundamental.

Hingga 2027, Saratoga akan terus aktif mengkaji berbagai peluang investasi baru di sektor-sektor dengan prospek jangka panjang.

“Seperti di layanan kesehatan, energi terbarukan, infrastruktur digital, dan sektor konsumen. Kami juga akan memfokuskan ekspansi pada perusahaan portofolio,” tuturnya.

Lalu, PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM) diketahui memiliki investasi pada saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dan MDKA, serta sejumlah obligasi perusahaan. Per Jumat (23/10), saham MBMA turun 34,04% YTD.

Baca Juga: ADPI: SBN dan Deposito Jadi Instrumen Aman Investasi DPLK di Tengah Volatilitas Pasar

Sebagai gambaran, PALM mencatatkan kerugian neto atas investasi pada saham dan efek ekuitas lainnya sebesar Rp 670,61 miliar pada semester I 2026. 

PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) diketahui memiliki saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), PT Surya Citra Media Tbk (SCMA), dan PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME). Saham ketiganya masing-masing turun 31,01%, 52,95%, dan 23,76% YTD. 

Emtek juga memiliki investasi reksadana, saham tercatat di bursa, dan instrumen lainnya yang masuk dalam aset keuangan lancar lainnya. 

Sementara itu, PT Astra International Tbk (ASII) mencatatkan rugi perubahan nilai wajar investasi lain-lain sebesar Rp 837 miliar sepanjang semester I 2026.

Managing Director PT Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su mengatakan, kinerja emiten investasi pada kuartal III dan IV 2026 masih berpotensi tertekan oleh volatilitas pasar. Terutama, SRTG dan PALM yang sensitif terhadap perubahan nilai wajar portofolio. 

Baca Juga: Kinerja Perusahaan Portofolio Jeblok, Laba Emiten Holding Investasi Anjlok

Namun, penurunan nilai investasi belum tentu mencerminkan pelemahan bisnis operasional.

Sementara, untuk ASII dan EMTK, kinerjanya lebih resilien mengingat mereka memiliki sumber pendapatan yang lebih beragam. 

“Penerimaan dividen, arus kas operasional, efisiensi biaya, dan pengelolaan utang menjadi faktor utama untuk menjaga kinerja hingga akhir tahun 2026,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (23/10/2026).