Mengintip Prospek Kinerja Emiten EBT pada 2026 dan Rekomendasi Saham Pilihan Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja keuangan emiten pengembang energi baru terbarukan (EBT) cukup beragam pada 2025. Pengoperasian proyek-proyek EBT hasil ekspansi bisnis akan menentukan nasib kinerja emiten di sektor tersebut pada 2026.

Salah satu emiten pengembang energi hijau, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mencetak kenaikan pendapatan 1,4% year on year (yoy) menjadi US$ 605 juta pada 2025.

Pertumbuhan ini terutama didorong oleh produksi listrik panas bumi yang stabil serta kontribusi dari Unit Binary Salak. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk BREN juga tumbuh 8,3% yoy menjadi US$ 132 juta. 


Baca Juga: Dinilai Masih Prospektif, Simak Rekomendasi Saham HEAL, MIKA dan SILO

Sebaliknya, pemain EBT besar lainnya yaitu PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mengalami penurunan laba bersih 14,2% yoy menjadi US$ 137,69 juta pada 2025. Namun, pendapatan mereka meningkat 6,29% yoy menjadi US$ 432,72 juta. 

Emiten EBT lainnya yaitu PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) mengalami penurunan pendapatan 9,35% yoy menjadi US$ 34,33 juta pada 2025.

Kendati demikian, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk KEEN tumbuh 24,56% yoy menjadi US$ 7,76 juta. 

PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) mampu meraih pertumbuhan kinerja top line dan bottom line yang positif pada 2025.

Baca Juga: Besok (3/4) Bursa Saham Libur, Cek Rekomendasi Saham Pilihan Analis Hari Ini

Pendapatan ARKO naik 43,70% yoy menjadi Rp 343,32 miliar sedangkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk ARKO bertambah 52,87% yoy menjadi Rp 63,90 miliar. 

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan, secara umum prospek kinerja emiten EBT pada 2026 cukup positif dan berpotensi tumbuh lebih tinggi.

Hal ini sejalan dengan beroperasinya sejumlah proyek pembangkit listrik berbasis energi terbarukan yang digarap emiten. 

Sebagai contoh, BREN membidik commercial operation date (COD) untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Wayang Windu Unit 3 dan Salak Unit 7 dengan kapasitas masing-masing 30 megawatt (MW) dan 40 MW pada kuartal IV-2026, sehingga langsung mendorong pendapatan. 

Baca Juga: Intip Rekomendasi Saham dan Prospek Emiten Rumah Sakit di 2026

"ARKO diuntungkan oleh PLTA Kukusan 2 yang mulai beroperasi Februari 2026, sementara PLTA Tomoni yang selesai akhir 2026 akan menjadi mesin pertumbuhan pada 2027," ujar Abida, Rabu (8/4/2026). 

Emiten-emiten EBT juga mendapat sentimen positif yang bersifat eksternal. Di antaranya adalah dorongan investasi dari BPI Danantara untuk proyek EBT strategis, tren dekabornisasi global, hingga potensi pemangkasan suku bunga acuan yang dapat menurunkan biaya pendanaan.

Abida menambahkan, tren pelemahan kurs rupiah belakangan ini berpotensi membebani emiten EBT, mengingat sebagian besar komponen capital expenditure (capex) emiten tersebut masih berdenominasi dolar AS.

Namun, risiko tersebut relatif rendah bagi emiten EBT yang berpendapatan dari valuta asing (valas) atau dolar AS. 

Senada, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, pelemahan rupiah akan memicu pembengkakan kebutuhan capex berjalan untuk menuntaskan proyek EBT, terutama jika mayoritas komponennya berasal dari impor.

Baca Juga: IHSG Masih Rawan Koreksi Pada Rabu (1/4/2026), Berikut Rekomendasi Saham dari Analis

Tantangan lain bagi emiten EBT adalah ketidakpastian negosiasi tarif dalam Power Purchase Agreement (PPA) yang melibatkan emiten dengan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).