Menyederhanakan rantai distribusi, belanja pangan di Etanee lebih murah 20%



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Permasalahan pangan menjadi bahasan yang menarik, dimana kondisi Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang terkadang masalah logistik kerap jadi perhatian utama.

Terutama logistik dalam sektor pangan, yang mana komoditi pangan baik hasil pertanian ataupun peternakan memiliki risiko kerusakan tinggi jika proses penyimpan kurang tepat, atau rantai dingin yang salah.

Baca Juga: Gojek Xcelerate batch 3 menyaring sembilan start up di ajang demo day


Rantai pasok bahan pangan yang sering dianggap jadi penyebab harga bahan pangan naik turun. Tak hanya itu suplai bahan pangan yang terlalu panjang juga andil di dalamnya. Melihat itu Etanee resmi meluncur pada Agustus 2017 yang memiliki fungsi menyederhanakan rantai pangan di Indonesia.

Aplikasi Etanee lebih dari sekedar e-commerce atau toko online. Secara model bisnis, Etanee menggabungkan tiga rantai bisnis utama yaitu rantai pasokan di hulu meliputi digitalisasi kegiatan produksi peternakan dan pertanian, lalu di rantai tengah manajemen logistic pasca-panen dan system distribusi hingga ke tangan konsumen akhir di bagian hilir.

Etanee digagas oleh Cecep Mochamad Wahyudin sebagai Co-Founder dan CEO Etanee bersama Herry Nugraha selaku Co-Founder dan COO Etanee.

Herry menjelaskan yang membedakan Etanee dengan platform lain ialah pada layanan yang meliputi pasokan pangan segar dan kering. Etanee tersedia dalam tampilan aplikasi di Android dan WebApps serta akan hadir di versi iOS pada akhir Februari ini.

Baca Juga: Harga sejumlah komoditas pangan naik, kinerja Menteri Perdagangan disorot

Dua model bisnis di Etanee, pertama ialah sebagai platform digital supply chain di rantai raw material yang sediakan bahan pangan beku dan segar.

Produknya mulai dari sayur, tahu, tempe, buah, daging, bumbu dapur, beras, minyak goreng, gula dan sembako lainnya yang bekerja sama dengan enam mitra.

Editor: Yudho Winarto