KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Metropolitan Land Tbk (
MTLA) atau Metland menilai, prospek bisnis pusat perbelanjaan pada 2026 masih berada dalam tren positif dan relatif stabil. Hal ini ditopang oleh terbatasnya pasokan mal baru di Jakarta serta tingkat okupansi yang tetap terjaga. Kondisi tersebut membuka ruang bagi pengelola mal eksisting untuk meningkatkan kinerja melalui penguatan kualitas tenant serta penyesuaian konsep pusat belanja.
Baca Juga: PGN (PGAS) Resmi Jadi Persero, Saham Naik 1,85% Direktur Metropolitan Land Olivia Surodjo mengatakan, minimnya suplai mal baru di Jakarta menjadi sinyal positif bagi potensi permintaan sewa, khususnya bagi pusat perbelanjaan yang telah beroperasi dan memiliki basis pengunjung yang kuat. “MTLA melihat prospek bisnis mal di 2026 masih positif dan cenderung stabil. Terbatasnya pasokan mal baru di Jakarta, dengan tingkat okupansi yang tetap terjaga, membuka peluang bagi mal existing untuk terus dioptimalkan,” ujar Olivia kepada Kontan.co.id, Rabu (4/2/2026). Berdasarkan laporan keuangan, hingga September 2025 MTLA membukukan pendapatan pra penjualan (
marketing sales) sebesar Rp 1,34 triliun, setara 67% dari target tahun ini yang dipatok Rp 2 triliun.
Baca Juga: PLTU Cirebon-1 Gagal Pensiun, Kementerian ESDM Identifikasi 15 PLTU Beremisi Tinggi Pada kuartal III-2025, pendapatan MTLA ditopang oleh 64% dari segmen residensial dan 36% dari pusat perbelanjaan, hotel, pusat rekreasi, serta pendapatan lainnya. Proyek Metland Cibitung dan Metland Menteng menjadi kontributor utama penjualan perseroan. Olivia menekankan, penguatan permintaan sewa tetap bergantung pada kemampuan pengelola dalam menjaga relevansi mal terhadap kebutuhan pasar. Peningkatan kualitas tenant serta pembaruan konsep menjadi strategi utama agar pusat perbelanjaan tetap kompetitif di tengah perubahan perilaku konsumen. Seiring dengan berkembangnya pasokan mal baru di kawasan Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek), MTLA mengaku tetap selektif dalam melihat peluang ekspansi portofolio mal.
Baca Juga: Waspadai PHK di Industri Tambang Batubara Imbas Pemangkasan RKAB Tahun 2026 Saat ini, perusahaan memprioritaskan optimalisasi aset yang telah beroperasi guna menjaga kontribusi pendapatan yang berkelanjutan. “Fokus perusahaan adalah mengoptimalkan kinerja mal yang telah beroperasi agar dapat memberikan kontribusi yang berkelanjutan. Pengembangan mal baru akan dipertimbangkan secara hati-hati dengan melihat kondisi pasar, potensi lokasi, serta peluang sinergi yang memberi nilai tambah,” jelasnya.