Mochtar Riady: Jika bersatu, Indonesia bersama ASEAN bisa menjadi kekuatan kelima



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pagebluk corona (Covid-19) telah menerjang tatanan bisnis global. Pendiri dan Chairman Grup Lippo Mochtar Riady mewanti-wanti agar Indonesia bersiap menghadapi krisis keuangan dan krisis ekonomi global akibat wabah corona.

"Saya sebagai orang tua, hanya bisa memberikan warning, mudah-mudahan (krisis) tak terwujud. Kita perlu waspada, sebelum hujan kita mesti sedia payung," ungkap dia, saat menjadi pembicara dalam seminar virtual Jakarta CMO Club bertema Business Wisdom During COVID-19 Era, Kamis (14/5).

Baca Juga: Mochtar Riady, konseptor awal Ovo yang tak risih memakai handuk bolong


Mochtar menjelaskan betapa dahsyatnya dampak negatif pagebluk corona. Dia mencontohkan kondisi Singapura. Sebulan setelah pemerintah setempat memberlakukan kebijakan karantina 14 hari bagi warga yang baru datang dari luar negeri pada Maret lalu, maskapai Singapore Airlines sudah kesulitan pendanaan.

"Pemerintah Singapura menyuntik pendanaan US$ 4 miliar ke Singapore Airlines, kemudian ditambah lagi US$ 15 miliar. Sehingga Singapore Airlines membutuhkan injeksi modal hingga US$ 19 miliar. Betapa besarnya airline menderita," ungkap Mochtar.

Selanjutnya, 10 hari setelah Singapore Airlines kesulitan, satu perusahaan minyak raksasa di Singapura bangkrut. Demikian pula perusahaan minyak di Dubai yang mengajukan kebangkrutan. Hal serupa juga dialami beberapa perusahaan di Amerika Serikat.

Selain perusahaan besar, Mochtar bilang, mayoritas sektor bisnis sangat tertekan akibat wabah corona. "Ada satu travel biro di Tiongkok, dengan market cap US$ 10 miliar, skrng hampir bangkrut. Kemudian perhotelan, pusat belanja, department store, semua berat dan terjadi di seluruh dunia," ungkap pria yang memiliki kekayaan US$ 2,1 miliar dan menduduki peringkat ke-12 orang paling tajir di Indonesia versi Majalah Forbes tahun 2019.

Baca Juga: Ini warning Mochtar Riady terkait krisis ekonomi akibat wabah Covid-19

Efek domino wabah Covid-19 juga bergulir di AS. Seluruh bidang usaha di Negeri Paman Sam saat ini mengalami situasi yang sangat sulit. Kondisi tersebut menimbulkan dua efek, yakni krisis finansial dan krisis ekonomi. Lihat saja, pemerintah AS telah menginjeksi US$ 4 triliun ke sistem perbankan negara itu.

"Namun economy crisis belum muncul, mungkin 1-2 tahun kemudian," prediksi Mochtar. Pengangguran di AS sudah mencapai 14,9%, bahkan diprediksi bisa menyentuh 25%.

Editor: Sandy Baskoro