Mutasi Covid-19 mutan ganda menimbulkan kecemasan di India



KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. Saat ini, lebih banyak negara memutuskan hubungan perjalanan dengan India karena negara itu mencatatkan lonjakan infeksi virus corona baru yang mengkhawatirkan dan belum pernah terjadi sebelumnya.

Melansir Straits Times, Amerika Serikat dan Inggris memberlakukan pembatasan perjalanan di India pada hari Senin (19/4/2021), di mana AS menyarankan para pelancong agar tidak pergi ke negara Asia Selatan itu meskipun mereka telah divaksinasi penuh terhadap Covid-19.

Sementara, Hong Kong telah melarang penerbangan dari India selama dua minggu mulai hari Selasa dan Selandia Baru memberlakukan penangguhan perjalanan dari India, termasuk pada warganya sendiri, hingga 28 April 2021 mendatang.


Singapura juga mengatakan pada hari Selasa bahwa pihaknya mengurangi dengan segera jumlah persetujuan masuk bagi mereka yang bukan warga negara Singapura atau penduduk tetap, tetapi memiliki riwayat perjalanan baru-baru ini ke India.

Baca Juga: Lebih dari 50 penumpang pesawat dari India tujuan Hong Kong positif Covid-19

Data yang dihimpun Straits Times menunjukkan, India telah melaporkan lebih dari 200.000 kasus Covid-19 setiap hari selama enam hari berturut-turut sejak 15 April. Adapun penghitungan satu hari tertinggi adalah pada hari Senin lalu yang mencapai 273.810 kasus. Ini merupakan lonjakan yang sangat mengkhawatirkan yang kemungkinan dipicu oleh varian virus corona baru yang berpotensi ganas.

Varian virus baru itu dinamakan varian B.1.617, yang membawa beberapa mutasi. Virus ini telah dijuluki "mutan ganda" karena dua mutasi kunci pada protein lonjakan virus corona, yang digunakannya untuk mengikat lebih efektif dengan sel sehingga menyebabkan infeksi.

Baca Juga: Darurat Covid-19, warga India meminta pertolongan untuk dirawat melalui Twitter

Sementara, mutasi L452R diketahui meningkatkan transmisi virus dan mengurangi kemanjuran antibodi, mutasi E484Q dikatakan memberi virus peningkatan sifat pengikatan sel dan penghindaran kekebalan.

Strain tersebut telah terdeteksi di setidaknya 16 negara, termasuk Singapura dan Inggris.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie