Nasabah Pandawa mulai ketar-ketir



JAKARTA. Rumah mewah di kompleks perumahan Palem Ganda Asri Blok A2 Nomor 18 Meruyung Limo, Ahad (8/1) lalu, ramai didatangi sejumlah orang. Mereka datang dari berbagai daerah, mulai dari Depok dan sekitarnya, Pekalongan, hingga dari luar Jawa, seperti Palembang.

Sang pemilik rumah, Nuryanto, pergi entah ke mana. Nuryanto adalah pimpinan Pandawa Group, yang belakangan ini jadi buah bibir di kalangan nasabah Pandawa. Siang itu, rumah bercat oranye ini seperti tak berpenghuni.

Bagian halaman rumah Nuryanto dipasangi dua bendera Indonesia dan satu bendera Pandawa. Bendera Pandawa berwarna dasar putih dengan logo Pandawa Group dan bertuliskan 'Hidup Itu Indah'. Tidak sedikit nasabah mencari keberadaan Nuryanto.


Nasabah berniat menarik dananya yang sudah diinvestasikan di Pandawa Group. Berdasarkan pengamatan KONTAN, nasabah datang silih berganti ke kediaman Nuryanto. Mereka datang sendiri maupun berkelompok.

Nasabah umumnya membenamkan investasinya ke Pandawa lebih dari Rp 20 juta per orang. Bahkan ada yang sudah memasukkan Rp 440 juta. "Saya sampai menggadaikan sertifikat rumah orang tua di Jakarta," ungkap Pebriani, yang kini bermukim di Palembang, Sumatra Selatan.

Pebrianti masuk Pandawa sejak Juni 2016. Datang jauh-jauh dari Palembang Minggu lalu, hasilnya nihil lantaran Nuryanto tak ada di kediaman.

Dia pun kecewa. Sebab, dana Rp 440 juta itu bukan hanya milik dia, tapi milik kerabat, yang mempercayakannya disimpan di Pandawa.

Kekecewaan serupa diungkapkan Nurhasanah, nasabah lain asal Pancoran, Jakarta. Ibu rumah tangga ini menginvestasikan total dana Rp 413 juta. Dia masuk secara bertahap ke Pandawa, yakni Agustus dan September 2016.

Ada pula seorang ibu yang datang bersama anaknya dengan sepeda motor. Ibu yang tinggal di kawasan Sawangan ini mengaku menginvestasikan dananya Rp 20 juta. "Saya ingin tarik dana, tapi leader bilang tidak bisa. Saya malah dibentak-bentak," tutur dia.

Editor: Yudho Winarto