Nasib smelter baru Freeport antara pemangkasan kapasitas dan kerja sama pihak ketiga



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nasib proyek smelter baru PT Freeport Indonesia (PTFI) masih berkutat pada dua opsi. Pengerjaan proyek di Gresik, Jawa Timur terus berjalan seiring penjajakan kerja sama dengan pihak ketiga.

President and Chief Executive Officer Freport-Mc.Moran Richard C. Adkerson menyampaikan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, PTFI bersama pemegang saham mayoritasnya yakni MIND ID telah berdiskusi dengan pemerintah membahas alternatif dalam pembangunan smelter tembaga baru sesuai kewajiban IUPK PTFI pada Desember 2018.

Merujuk laporan Fourth-Quarter and Year Ended 2020 Freeport-McMoran (FCX), opsi pertama pembangunan smelter baru PTFI ialah dengan meningkatkan kapasitas pengolahan konsentrat di smelter eksisting, PT Smelting. Penambahan kapasitas rencananya dilakukan sekitar 30% atau 300.000 metrik ton konsentrat per tahun.


Sebagai informasi, PTFI memiliki saham sebanyak 25% di PT Smelting. Sedangkan mayoritas saham dari smelter yang berlokasi di Gresik, Jawa Timur itu dimiliki oleh Mitsubishi Materials Corporation (MMC). Adapun, ekspansi 30% di PT Smelting ini ditaksir menelan biaya sebesar US$ 250 juta.

Baca Juga: Begini kinerja operasional Freeport Indonesia di tahun 2020

"Selama Kuartal Keempat (2020) kami melanjutkan diskusi dengan pemilik mayoritas PT Smelting untuk perluasan 30% untuk menambah kapasitas peleburan di Indonesia dan sebagian untuk memenuhi komitmen kami kepada pemerintah. Diskusi komersial dan pembiayaan sedang dikembangkan," ungkap Adkerson dalam conference call yang digelar Selasa (26/1) waktu setempat.

Dengan perluasan kapasitas PT Smelting, maka PTFI akan mengurangi kapasitas proyek smelter barunya dari 2 juta metrik ton konsentrat per tahun, menjadi 1,7 juta metrik ton. Dengan begitu, investasi untuk proyek smelter baru yang sebelumnya ditaksir mencapai US$ 3 miliar bisa dipangkas.

Secara terpisah, sambung Adkerson, atas permintaan pemerintah Indonesia PTFI juga sedang berdiskusi dengan pihak ketiga terkait potensi pembangunan smelter baru yang berlokasi di luar Jawa Timur. Jika disepakati, ini akan menggantikan proyek smelter baru yang sedang dikerjakan PTFI.

Nantinya, pihak ketiga inilah yang akan memimpin pembangunan smelter dan mengatur pembiayaan. "PTFI akan berkomitmen menjadi pemasok konsentrat untuk proyek tersebut. Para mitra, serta pemerintah akan bekerja secepatnya untuk mencapai keputusan," ungkap Adkerson.

Saat ini kerja sama tersebut masih dalam tahap diskusi, antara lain menegosiasikan tarif Treatment Charge and Refining Charge (TCRC). "Ada peluang bagi kami untuk berakhir dalam situasi yang lebih menguntungkan bagi PTFI jika berhasil dalam negosiasi ini," sambungnya.

Editor: Yudho Winarto