Nilai Net Sell di BEI Lampaui Krisis 2008 dan Pandemi, Cermati Penjelasan Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aksi jual bersih (net sell) investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang 2026 terus membesar.

Hingga Jumat (9/10/2026), nilai jual bersih asing mencapai Rp 84,99 triliun, melampaui arus keluar dana asing saat krisis keuangan global pada 2008 maupun pandemi Covid-19 pada 2020.

Sebagai perbandingan, investor asing mencatatkan net sell Rp 50,17 triliun di BEI pada 2008 dan Rp 53,84 triliun pada 2020.


Besarnya arus keluar dana asing tahun ini mencerminkan tekanan yang dihadapi pasar saham Indonesia, di tengah persaingan menarik modal global dan persoalan kepercayaan investor terhadap pasar domestik.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai investor global kini cenderung memilih pasar saham dengan fundamental ekonomi kuat, regulasi yang baik, serta iklim politik yang stabil.

Baca Juga: Net Sell Asing Lampaui Krisis 2008 dan 2020, Investor Global Tunggu Aksi OJK dan SRO

Sejumlah pasar alternatif yang menarik perhatian investor global antara lain Vietnam, Taiwan, dan Korea Selatan. Vietnam menawarkan daya tarik dari sisi kemudahan berbisnis dan regulasi.

Sementara itu, Taiwan dan Korea Selatan memiliki peluang pertumbuhan dari industri teknologi dan semikonduktor.

Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia Budi Frensidy mengatakan, Vietnam mulai menarik minat investor seiring membaiknya iklim investasi.

Daya tarik tersebut menguat setelah penyedia indeks global asal Inggris, FTSE Russell, menaikkan status Vietnam menjadi emerging market atau pasar berkembang dari sebelumnya frontier market pada 21 September 2026.

Sepekan menjelang perubahan status tersebut, pasar saham Vietnam mencatatkan net buy asing sekitar US$ 104 juta.

Taiwan juga mendapat aliran dana asing berkat prospek bisnis berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan semikonduktor.

Baca Juga: IHSG Naik Tipis ke 5.924, Cermati Saham Net Buy & Net Sell Terbesar Asing Sepekan

Budi memperkirakan, tren pertumbuhan kedua sektor tersebut mendorong foreign inflow ke pasar Taiwan sebesar US$ 11,15 miliar hingga Agustus 2026.

Berbeda dengan Vietnam dan Taiwan, pasar saham Korea Selatan masih menghadapi tekanan jual asing.

Hingga September 2026, investor asing tercatat membukukan net sell sekitar 21,5 triliun won. Meski demikian, pasar obligasi Korea Selatan tetap menarik arus modal asing.

Sejak awal tahun hingga 8 Oktober 2026, aliran dana masuk ke pasar surat utang Korea Selatan mencapai US$ 40,53 miliar.

Tren serupa terjadi di Indonesia, meski dengan nilai lebih kecil. Pada periode yang sama, pasar obligasi Indonesia mencatatkan arus masuk dana asing sebesar US$ 1,86 miliar.

Menurut Budi, kondisi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia menghadapi persaingan yang semakin ketat dalam menarik alokasi dana investor global, terutama dari Vietnam dan Taiwan.

Di sisi lain, investor global juga tengah mengurangi eksposur pada pasar saham negara berkembang.

Sepanjang September 2026, pasar ekuitas emerging market mencatatkan arus keluar dana sekitar US$ 19,2 miliar, dipicu tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dan penguatan dolar AS.

Baca Juga: Net Sell Masih Deras, Sebelum Berlibur Akhir Pekan, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Direktur Utama RHB Sekuritas Thomas Nugroho menilai, derasnya net sell asing di BEI tidak hanya dipengaruhi tekanan eksternal, tetapi juga persoalan kepercayaan investor terhadap pasar domestik.

Isu transparansi kepemilikan saham, porsi saham publik (free float), kepastian kebijakan, serta evaluasi penyedia indeks global turut memengaruhi keputusan investor.

Tekanan terhadap pasar saham Indonesia juga berkaitan dengan persoalan struktural di dalam negeri.

Salah satu pemicunya adalah keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada 27 Januari 2026 yang membekukan sejumlah penyesuaian indeks terkait pasar saham Indonesia. Investor kini menantikan evaluasi MSCI pada November 2026.