Nyaris bangkrut karena gunakan bahan berbahaya (2)



Sebagai perusahaan mainan, bisnis Moose Toys naik pesat setelah dikelola Manny Stul. Bahkan nama Moose Toys masuk dalam jajaran perusahaan mainan terbesar di Australia dan Amerika Serikat (AS). Namun seperti umumnya kebanyakan pengusaha lainnya, perjalanan bisnis Stul pun diadang onak dan duri. Salah satu kasus terbesar yang mendera Moose adalah penggunaan bahan berbahaya dalam produk mainan. Kasus ini nyaris membuatnya bangkrut.

Selama 17 tahun, Manny Stul mengembangkan bisnis Moose Toys menjadi salah satu perusahaan mainan anak terbesar di Australia, bahkan di Amerika Serikat (AS). Di bawah kendali Stul, Moose Toys bertransformasi menjadi perusahaan mainan kelas dunia, dengan penjualan berlipat beratus kali dari awal berdiri pada tahun 2000 silam.

Dari bisnis mainan anak-anaknya ini, Stul berhasil mengumpulkan pundi dollar yang tidak sedikit. Berdasarkan data Forbes terbaru, total kekayaan pria berumur 68 tahun tersebut mencapai US$ 1,41 miliar. Kesuksesan Stul ini bukan tanpa rintangan. Pada tahun 2007, pria yang hanya lulusan sekolah menengah atas ini pernah hampir bangkrut, karena banyak tuntutan konsumen terkait bahan berbahaya yang terdapat pada produk mainannya.


Saat kejadian itu atau setelah tujuh tahun Moose Toys berdiri, penjualan mainan Stul sedang tumbuh pesat. Mengutip AFR, saat itu Stul sedang berada di Perth, mengunjungi keluarga yang anaknya dirawat akibat menelan Bindezz, mainan produksinya.

Bindezz merupakan manik-manik kecil beraneka warna, yang bila disusun dan lalu disemprotkan air di atasnya, akan menyatu, membentuk pola sesuai daya kreasi si pemainnya. Mainan ini mendapat penghargaan sebagai "toy of the year" di tahun 2007.

Setelah dilakukan pengembangan oleh aparat terungkap bahwa kasus ini terjadi disejumlah wilayah, salah satunya Sydney. Berdasarkan penyelidikan, mainan tersebut mengandung zat berbahaya yaitu gamma-Hydroxybutyrate (GHB) yang biasa digunakan pelaku kejahatan pemerkosaan dengan efek memabukkan dan meningkatkan libido sang korban.

Editor: Tri Adi