OJK akan rating tingkat kesehatan industri asuransi, pembiayaan dan dapen



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah melakukan reformasi Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) demi meningkatkan standar pengaturan dan kualitas pengawasan di sektor ini. Salah satunya dengan melakukan rating atau penilaian tingkat kesehatan di tiga sektor yakni asuransi, lembaga pembiayaan dan dana pensiun.

Deputi Komisioner Pengawas IKNB I OJK, Anggar B. Nuraini menjelaskan bahwa penilaian tingkat kesehatan keuangan sebelumnya hanya memperhitungkan profil risiko perusahaan. Selain itu, OJK akan menambah beberapa aspek penilaian tingkat kesehatan yang mengadopsi dari perbankan.

Baca Juga: Benny Tjokro: Saham Hanson hanya 2% dari total investasi Jiwasraya


“Kami juga melihat nilai pemodalan, liabilitas, tata kelola perusahaan yang baik (GCG) dan profil risiko. Mereka akan menyampaikan hal tersebut kepada OJK,” kata Anggar di Wisma Mulai 2 Jakarta, Senin (24/2).

Setelah itu, regulator akan melakukan penilaian kemudian tindakan pengawasan dan pemantauan. Misalnya saja, dalam industri pembiayaan OJK membaginya dalam lima tingkat kesehatan. Rating satu (sangat baik), dua (sehat), tiga (cukup sehat), empat (kurang sehat) dan lima (tidak sehat).

Deputi Direktur Pengawasan Lembaga Pembiayaan OJK Indra mengatakan, lembaga jasa keuangan wajib melakukan penilaian sendiri yakni paling kurang setiap tahun hingga posisi akhir Desember serta melakukan pembaruan penilaian jika diperlukan. Hasil penilaian tersebut wajib disampaikan kepada dewan komisaris dan OJK.

“OJK juga melakukan penilaian tingkat kesehatan setiap tahun untuk posisi akhir Desember dan melakukan perbaruan penilaian sewaktu-waktu jika diperlukan berdasarkan hasil pemeriksaan. Laporan berkala ini disampaikan kepada lembaga jasa keuangan non-bank dan informasi lain,” jelasnya.

Baca Juga: Pemerintah akui Jiwasraya memang butuh suntikan modal

Adapun faktor penilaian industri pembiayaan mencakup tata kelola perusahaan yang baik, profil risiko, pemodalan, pendanaan dan rasio rentabilitas. Penilaian tersebut baik secara individu dan konsolidasi. Setelah itu, terdapat tindak lanjut penilaian serta penyampaikan rencana kerja perusahaan kepada OJK.

Editor: Tendi Mahadi