Pakistan Jadi Tuan Rumah: Mungkinkah AS-Iran Berdamai di Tengah Ancaman Perang?



KONTAN.CO.ID - Pakistan mengatakan pada Minggu (29/3/2026) bahwa pihaknya tengah bersiap menjadi tuan rumah “pembicaraan yang bermakna” untuk mengakhiri konflik terkait Iran dalam beberapa hari ke depan, meskipun Teheran menyatakan siap merespons jika Amerika Serikat mengirim pasukan darat.

Reuters memberitakan, berbicara setelah pertemuan para menteri luar negeri kawasan, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mengatakan bahwa mereka membahas berbagai kemungkinan untuk mengakhiri perang di kawasan tersebut secara cepat dan permanen, termasuk peluang perundingan AS-Iran di Islamabad.

“Pakistan akan merasa terhormat untuk menjadi tuan rumah dan memfasilitasi pembicaraan yang bermakna antara kedua pihak dalam beberapa hari ke depan, demi penyelesaian menyeluruh dan berkelanjutan atas konflik yang sedang berlangsung,” kata Dar.


Namun, belum jelas apakah AS dan Iran telah sepakat untuk menghadiri pertemuan tersebut. Departemen Luar Negeri AS dan Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar terkait kemungkinan pembicaraan di Pakistan.

Upaya Pakistan ini diperumit oleh posisi maksimalis yang disampaikan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mengenai syarat-syarat yang dibutuhkan untuk mengakhiri konflik.

Ketua parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf sebelumnya menuduh AS mengirim pesan mengenai kemungkinan negosiasi, namun pada saat yang sama merencanakan pengiriman pasukan. Ia menambahkan bahwa Teheran siap merespons jika tentara AS dikerahkan.

Baca Juga: China Protes AS! Minta Washington Setop Campuri Urusan Hong Kong, Apa yang Terjadi?

“Selama Amerika menginginkan penyerahan Iran, jawaban kami adalah kami tidak akan pernah menerima penghinaan,” katanya dalam pesan dari rakyat Iran.

Kekuatan regional usulkan rencana pembukaan kembali Selat Hormuz

Sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan diskusi awal antara Pakistan, Arab Saudi, Turki, dan Mesir berfokus pada proposal untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran.

Blokade efektif Iran terhadap pengiriman minyak dan gas melalui selat tersebut sejak AS dan Israel mulai menyerang Iran pada 28 Februari telah menyebarkan dampak ekonomi ke seluruh dunia.

Memasuki bulan kedua, konflik tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Militer Israel mengatakan telah meluncurkan lebih dari 140 serangan udara ke Iran bagian tengah dan barat, termasuk Teheran, dalam 24 jam hingga Minggu malam. Serangan itu menargetkan lokasi peluncuran rudal balistik dan fasilitas penyimpanan, serta target lainnya.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa serangan menghantam Bandara Mehrabad dan sebuah pabrik petrokimia di kota Tabriz di utara Iran.

Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan operasi militer Israel yang semakin meluas di Lebanon selatan menyebabkan tewasnya seorang petugas kesehatan, setelah sebelumnya 51 petugas kesehatan telah terbunuh.

Baca Juga: Tokoh Oposisi Reza Pahlavi: Jangan Buat Kesepakatan dengan Pemimpin Iran Saat Ini