Pasar modal anjlok, DPLK alihkan investasi ke deposito dan surat utang



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergolakan pasar modal membuat pemain Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) bereaksi. Demi mengamankan dana kelolaan, para peserta DPLK mengalihkan investasi dari saham ke deposito hingga surat utang.

Salah satunya DPLK Syariah Muamalat. Senior Vice President & Executive DPLK Syariah Muamalat Sulistyowati menyebut, sampai Februari 2020 dana kelolaan terbesar ditaruh ke deposito yakni 61% dari total investasi. Menyusul sukuk 33%, reksadana 5% dan saham 1%.

Baca Juga: Pengelola dana pensiun masih perhitungkan dana yang akan masuk pasar saham


Dari realisasi tersebut, pengalihan investasi ke deposito mengalami peningkatan sejak tahun lalu. Penyebabnya, imbal hasil dari portofolio lain menurun seperti saham, reksadana dan sukuk.

“Beberapa peserta memindahkan pilihannya dari sukuk ke deposito atau secara otomatis yang akan pensiun dua tahun lagi maka pilihan investasinya dipindahkan ke paket deposito,” kata Sulistyowati kepada Kontan.co.id, Senin (16/3).

Hal ini sesuai anjuran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahwa investasi peserta menjelang masa pensiun harus ditaruh ke portofolio yang aman, seperti deposito. Dengan kondisi itu, perseroan hanya menargetkan imbal hasil investasi sekitar 8% tahun ini.

“Kami tidak punya strategi khusus mencapai target (imbal hasil). Yang bisa kami lakukan mengoptimalkan portofolio pilihan investasi yang sedang bagus sesuai keranjang portofolio pilihan nambah,” terangnya.

Sedangkan DPLK BRI sampai Februari 2020 mencatatkan peningkatan investasi ke instrumen pendapatan tetap yakni obligasi menjadi 45,04% dari total dana kelolaan. Padahal 2019 lalu, investasi ke pendapatan tetap masih 38,38%.

Baca Juga: Sepuluh dari 18 emiten IPO 2020 masuk daftar efek syariah

Sebaliknya, investasi ke pasar uang dan saham justru turun. Dibandingkan tahun lalu, investasi saham turun dari 1,38% menjadi 1,21% di Februari 2020. Sementara pasar uang turun dari 56,79% ke 50,6%.

Editor: Tendi Mahadi