Pasar properti lesu di 2018, pengembang berharap di 2019



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sepanjang 2018, bisnis properti masih mengalami kelesuan. Bahkan sejumlah konsultan properti menyebutkan bahwa pasar properti tahun 2018 merupakan yang terendah sejak tahun 2013 dan diprediksi baru akan mulai merangkak naik di semester II 2019.

Kondisi tersebut bisa tercermin dari pencapaian marketing sales sejumlah pengembang yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Meskipun laporan capaian sepanjang tahun ini belum keluar, namun sebagian besar data terakhir yang dilaporkan masing-masing pengembang masih jauh dari target. Bahkan, tak sedikit yang memutuskan menurunkan target.


PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) misalnya baru berhasil mengantongi marketing sales atau penjualan pemasaran Rp 1,94 triliun sepanjang Januari-September 2018 atau 39,5% dari target Rp 4,9 triliun tahun ini. Lantaran masih jauh dari target, perusahaan ini kemudian memutuskan merevisi target menjadi Rp 3,5 triliun.

Sepanjang tahun ini, APLN mengandalkan penjualan pada tiga proyek utama yakni Podomoro Park Bandung, Podomoro City Deli Medan, dan Podomoro Golf View.

Menurut Wibisono, Investor Relation APLN, ketiga proyek tersebut mencatatkan penjualan yang cukup bagus.

Adapun Podomoro Park Bandung merupakan proyek rumah tapak dan baru resmi diluncurkan pada kuartal I 2018 ini. Selebihnya adalah proyek eksisting.

Sementara proyek lain yang masih dipasarkan APLN tahun ini ada di Borneo Bay City Balikpapan, Taruma City di Karawang, Vimalla Hills di Bogor, dan Apartemen Orchard View Batam.

Lalu PT Intiland Development Tbk (DILD) juga tidak yakin targetnya sebesar Rp 3,3 triliun tercapai tahun ini. Maklum hingga kuartal III, capainnya baru 1,6 triliun atau 48,4% dari target. Oleh karena itu, perusahaan memilih untuk merevisi target namun tidak menyebutkan berapa target yang dipangkas.

Archied Noto Pradono, Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland pada akhir November lalu mengatakan, rendahnya capaian marketing sales tersebut lantaran kondisi pasar properti masih lesu terutama untuk hunian vertikal di wilayah Surabaya.

Dengan kondisi pasar yang lesu tersebut, Intiland memutuskan untuk menunda peluncuran proyek baru di Surabaya yakni Tierra Dharmo Harapan yakni proyek mixed use development di lahan seluas 6 hektare (ha).

Editor: Yudho Winarto