Pekan pertama April, IHSG menguat 1,71%



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memasuki bulan April 2020, pandemi Covid-19 masih memberikan dampak yang fluktuatif bagi pasar modal Indonesia.

Terlepas dari situasi tersebut, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup positif pada minggu ini atau untuk periode 30 Maret sampai dengan 3 April 2020, dengan kenaikan 1,71% ke level 4.623,42 dibanding penutupan pada minggu sebelumnya pada posisi 4.545,57.

Senada dengan IHSG, nilai kapitalisasi pasar pada minggu ini juga naik 1,55% atau sebesar Rp 5.341,128 triliun dari Rp 5.259,807 triliun pada penutupan minggu sebelumnya.


Baca Juga: IHSG menguat di akhir pekan ini, simak prediksi untuk pekan depan

Sementara itu pada minggu ini data rata-rata volume, frekuensi dan nilai transaksi harian perdagangan di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami perubahan sebesar 22,67% terjadi pada data rata-rata volume transaksi harian menjadi 6.585 miliar unit saham dari 8.516 miliar unit saham pada minggu lalu.

"Dan perubahan paling signifikan yaitu sebesar 29,56% terjadi pada data rata-rata nilai transaksi harian menjadi Rp 6,776 triliun dari Rp 9,619 triliun pada minggu lalu," ujar Sekretaris PT Bursa Efek Indonesia, Yulianto Aji Sadono dalam keterangan tertulis, Jumat (3/4).

Sementara itu, investor asing pada hari ini mencatatkan jual bersih sebesar Rp 16,55 miliar, sedangkan sepanjang tahun 2020, jual bersih asing tercatat sebesar Rp 10,785 triliun.

BEI pada Selasa (31/3) juga resmi melakukan Pencatatan Perdana Saham PT Saraswanti Anugerah Makmur Tbk dengan kode saham SAMF, yang menjadi perusahaan tercatat ke-19 pada tahun 2020 dan tercatat pada Papan Utama BEI.

SAMF bergerak pada sektor basic industry and chemicals dengan subsektor chemicals. Untuk pertama kalinya seremoni dari pencatatan saham tersebut ditiadakan, sehubungan dengan imbauan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Pemerintah Republik Indonesia untuk melakukan physical distancing serta pembatasan kegiatan dalam jumlah besar sebagai langkah antisipasi penyebaran pandemi Covid-19 di Indonesia.

Editor: Herlina Kartika Dewi