KONTAN.CO.ID - Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) masih berada dalam tekanan beberapa waktu terakhir. Bahkan, pada penutupan perdagangan Selasa (12/5/2026), rupiah ditutup di level Rp 17.529 per dollar AS. Angka ini menjadi salah satu posisi terlemah rupiah sepanjang sejarah. Pergerakan rupiah yang terus melemah membuat pelaku pasar dan masyarakat menaruh perhatian terhadap kondisi ekonomi global maupun domestik yang turut memengaruhi nilai tukar mata uang rupiah. Selain dipengaruhi sentimen pasar global, pergerakan rupiah juga dipengaruhi dinamika perdagangan, aliran modal asing, hingga kondisi ekonomi dalam negeri. Kondisi tersebut membuat nilai tukar rupiah masih bergerak fluktuatif dan berada dalam tekanan terhadap dollar AS.
Lantas, apa penyebab rupiah terus melemah bahkan hingga menyentuh salah satu level terendah sepanjang sejarah?
Mengapa rupiah terus melemah?
Direktur Ekonomi Celios Nailul Huda menilai pelemahan rupiah saat ini lebih disebabkan persoalan fundamental ekonomi domestik, bukan semata-mata akibat perang atau konflik global. “Masalah perang ini bukan masalah fundamental yang menyebabkan rupiah melemah. Pelemahan rupiah sudah terjadi sebelum adanya perang,” kata Huda kepada Kompas.com, Rabu (13/5/2026). Menurutnya, salah satu faktor utama yang memicu tekanan terhadap rupiah adalah pengelolaan fiskal yang dinilai kurang baik. Ia menyoroti defisit anggaran pemerintah pada 2025 yang melebar hingga mendekati 3% dan diperkirakan masih berlanjut pada 2026. Kondisi tersebut, kata Huda, memunculkan kekhawatiran investor asing terhadap fundamental ekonomi Indonesia sehingga mendorong terjadinya capital outflow atau arus keluar modal asing.
Baca Juga: Setelah Naikkan Gaji, Prabowo Janjikan Rumah Jabatan Kepada 8.900 Hakim “Ada kekhawatiran investor asing terhadap kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Akhirnya banyak uang yang keluar atau terjadi capital outflow,” ujarnya. Arus keluar modal itu membuat permintaan terhadap dollar AS meningkat dibandingkan rupiah. Selain itu, sejumlah lembaga pemeringkat surat utang juga mulai memberikan peringatan kepada investor terkait kondisi ekonomi Indonesia.
Pelemahan rupiah berpotensi memicu imported inflation
Huda menjelaskan, pelemahan rupiah berpotensi memicu imported inflation atau inflasi impor, terutama pada barang-barang yang bergantung pada bahan baku maupun produk impor. “Biaya distribusi naik, harga barang ikut naik. Imported inflation akan terjadi, terutama untuk barang yang terkait impor, baik bahan baku, barang penolong, maupun barang konsumsi,” jelasnya. Ia memperkirakan dampak kenaikan harga mulai terasa dalam dua hingga tiga bulan ke depan. Adapun, tekanan paling besar diperkirakan terjadi pada harga kebutuhan pokok, transportasi, dan biaya hidup harian masyarakat. Menurut Huda, salah satu dampak yang mulai terlihat adalah kenaikan harga plastik dan kemasan akibat mahalnya biaya impor serta distribusi. “Sekarang plastik sudah mulai mahal karena barangnya langka, distribusi mahal, ditambah nilai rupiah melemah,” kata Huda. Ia menambahkan, kenaikan harga plastik juga berpotensi memengaruhi berbagai produk lain yang menggunakan bahan kemasan tersebut, termasuk minyak goreng kemasan dan barang kebutuhan sehari-hari. “Dampak pelemahan nilai tukar ini bisa menyeluruh ke semua lapisan masyarakat, mulai dari penjual gorengan hingga pengusaha,” tambahnya.
Baca Juga: BKPM Buka Suara soal Surat Kadin China: Pemerintah Akan Tenangkan Investor 80% tekanan terhadap rupiah berasal dari dalam negeri
Sementara itu, Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor domestik dibandingkan faktor global. Ia menyebut sekitar 80% tekanan terhadap rupiah berasal dari dalam negeri. Menurutnya, hal itu terlihat dari tren pelemahan rupiah terhadap sekitar 85% mata uang dunia dalam enam bulan terakhir.
Rupiah juga tercatat melemah terhadap mata uang negara tetangga, seperti dollar Singapura, ringgit Malaysia, baht Thailand, dong Vietnam, dan peso Filipina. “Penyebab rupiah melemah, sekitar 80% berasal dari faktor domestik. Buktinya, dalam enam bulan terakhir rupiah melemah terhadap sekitar 85% mata uang dunia,” ujar Wijayanto, saat dihubungi terpisah, Rabu. Ia menjelaskan, salah satu penyebab utama pelemahan rupiah berasal dari tantangan struktural pada neraca pembayaran atau balance of payments Indonesia. Menurutnya, surplus perdagangan berpotensi terus menurun akibat melemahnya ekspor karena turunnya harga komoditas dan perlambatan permintaan global seiring melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia.