Pemilik merek Pizza Hut dikabarkan bangkrut, siapa bilang?



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Beberapa hari terakhir, ramai diberitakan pemilik restoran Pizza Hut di Amerika Serikat (AS) dikabarkan mengajukan perlindungan kebangkrutan. Banyaknya restoran yang harus ditutup selama pandemi virus corona menjadi salah satu pemicunya.

Asal tahu saja, perusahaan pemilik merek Pizza Hut, Yum! Brand Inc, masih dalam kondisi yang sehat. Sementara, perusahaan yang terancam bangkrut adalah NPC International. NPC International merupakan salah satu pemegang hak waralaba Pizza Hut di AS (franchisee). Sementara, pemilik hak waralaba atau franchisor Pizza Hut di seluruh dunia adalah Yum! Brands Inc. Hubungan Yum! Brands dan NPC International yakni sebatas kemitraan waralaba.

Baca Juga: Laba Sarimelati Kencana (PZZA) turun hingga 84,94% di kuartal I 2020


Dikutip dari laman resminya, Minggu (5/7/2020), Yum Brand! diketahui memiliki sejumlah merek waralaba lain selain Pizza Hut diantaranya KFC, Taco Bell, WingStreet, dan The Habit Burger Grill. Baca juga: Mengenal Yum! Brands, Induk Perusahaan dari Pizza Hut Yum! Brands selaku pemilik merek, menjual lisensi waralaba ke seluruh dunia, termasuk ke NPC International yang mengoperasikan jaringan restoran Pizza Hut di AS.

Di Indonesia, Yum! Brands menjual lisensi waralaba Pizza Hut ke PT Sarimelati Kencana Tbk. Franchise milik Yum! Brands lainnya yang populer di Indonesia yakni KFC. Waralaba restoran yang identik dengan Kolonel Sanders di Indonesia ini dipegang oleh perusahaan lain yakni PT Fast Food Indonesia Tbk. Waralaba restoran cepat saji lain, A&W juga sebelumnya milik Yum! Brand, sebelum kemudian dijual kepada perusahaan lain, Great American Brand LLC.

Baca Juga: Waralaba Pizza Hut AS bangkrut, saham Sarimelati Kencana (PZZA) anjlok

Memburuknya kinerja perusahaan pembeli franchise seperti yang dialami NPC International, bisa saja berimbas pada Yum! Brands sebagai pemilik merek. Apalagi, beberapa perusahaan pemegang lisensi lain milik Yum! Brands di seluruh dunia tengah dalam kondisi tertekan karena penutupan restoran selama Covid-19.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie