Penting! Ini informasi tentang badai sitokin yang perlu kamu tahu



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasca dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO, Covid-19 telah menjadi ancaman global yang menyebar dengan cepat. Virus Corona menginfeksi saluran pernapasan yang mengakibatkan penumonia pada sebagian besar kasus dan sindrom gangguan pernapasan akut. 

Sebagian besar kasus kematian pasien Covid-19 juga terjadi karena adanya badai sitokin. Apa itu badai sitokin? Badai sitkon merupakan sekelompok gejala medis di mana sistem kekebalam tubuh mengalami terlalu banyak peradangan. 

Hal ini mengakibatkan organ tubuh gagal berfungsi dan memicu kematian. Sebenarnya, badai sitokin tak hanya hanya terjadi pada pasien yang mengalami Covid-19 tetai juga bisa dialami penderita autoimun seperti artritis juvenile. 


Badai sitokin juga bisa terjadi selama beberapa jenis pengobatan kanker. Biasanya, kondisi ini dipicu oleh infeksi seperti influenza. Badai sitokin terjadi sel-sel tubuh mengirim sinyal bahaya akibat adanya virus yang masuk. 

Baca Juga: 15 Gejala badai sitokin pada pasien Covid-19, wajib waspada!

Ketika sel tersebut merasa ada hal buruk yang terjadi, maka sel tersebut akan membunuh dirinya sendiri. Jika ada banyak sel yang melakukan hal tersebut, tentu banyak jaringan yang bisa mati. Hal inilah yang memicu badai sitokin.

Bagaimana mengatasinya? 

Sayangnya, belum ada obat yang membantu menghentikan reaksi badai sitokin ini. Namun, akita bisa mencegah terjadinya peradangan di tubuh yang merupakan efek dari badai sitokin. 

Berikut berbagai cara untuk mengurangi efek peradangan akibat badai sitokin: 

- Terapkan gaya hidup sehat 

Gaya hidup merokok dan konsumsi alkohol berlebihan bisa meningkatkan risiko berbagai macam penyakit. Penelitian juga menunjukan kurang tidur, stres berlebihan, merokok, dan konsumsi alkhol bisa meningkatkan peradangan di tubuh. 

Karena itu, langkah terbaik untuk mengatasi efek peradangan akibat badai sitokin adalah dengan menerapkan gaya hidup sehat seperti istirahat cukup, hindari merokok dan alkohol. 

Baca Juga: Inilah penjelasan Kemenkes kenapa efek samping vaksin Covid-19 Moderna lebih parah

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie