Peringatan analis: Tren suku bunga nol atau negatif sesat dan racun bagi ekonomi



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Suku bunga nol atau negatif akan menyebabkan "kerusakan luar biasa" pada perekonomian dalam jangka panjang. Analis memperingatkan, kecanduan dana murah bisa menjadi masalah besar karena bank sentral di seluruh dunia tengah memberlakukan kebijakan suku bunga yang semakin rendah.

Melansir CNBC, Yuwa Hedrick-Wong, seorang dosen tamu di Sekolah Kebijakan Publik Lee Kuan Yew mengatakan, tren suku bunga nol adalah "sesat" dan dapat "meracuni" lingkungan bisnis.

Baca Juga: Suku Bunga Turun, Investor Memburu Sukuk Negara


Suku bunga rendah menghapus keuntungan pemberi pinjaman karena mempersempit margin yang bisa didapat bank. Dalam lingkungan suku bunga negatif, menurunkan suku bunga lebih dalam ke wilayah negatif pada dasarnya berarti bahwa pemberi pinjaman membayar lebih kepada bank sentral untuk menyimpan kelebihan dana mereka dalam semalam.

Sebelumnya Reuters menulis, Presiden AS Donald Trump secara konsisten menyerukan agar The Fed memberlakukan kebijakan suku bunga rendah. Dia pernah menuliskan  tweet pada September lalu bahwa The Fed harus memangkas suku bunga menjadi nol atau bahkan menetapkan suku bunga negatif. Dia juga tampak memuji Jerman untuk memberlakukan tingkat suku bunga negatif pada obligasi pemerintah.

Di sisi lain, bank-bank di Eropa telah berjuang selama bertahun-tahun dalam kebijakan suku bunga rendah yang terus-menerus. Pertama kali, suku bunga pinjaman di Eropa menyentuh nol pada 2012 sebelum berbalik negatif pada 2014. Bank Sentral Eropa menekan suku bunga acuannya lebih jauh di bawah nol pada September. Negara-negara lain seperti Denmark, Swedia dan Jepang juga melakukan kebijakan yang sama.

Baca Juga: Lelang SBSN dinilai sukses menambah minat investor

“Kita harus membalik proses itu. Normalisasi suku bunga harus menjadi prioritas utama dalam mengelola ekonomi ke depan," kata Hedrick-Wong pada diskusi panel. "Kecanduan uang murah ... itulah masalahnya, bukan solusinya."

Mengapa bank sentral menginginkan suku bunga negatif?

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie