Permintaan Ayam Mulai Pulih, Simak Rekomendasi Saham Japfa (JPFA)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) diperkirakan bakal membaik tahun ini. Sejumlah sentimen seperti membaiknya permintaan ayam hingga naiknya harga ayam boiler (pedaging) bisa mendongkrak kinerja emiten ternak ini.

Analis Mirae Asset Sekuritas Emma A. Fauni mengatakan, harga rata-rata bulanan ayam boiler pada bulan Desember 2021 di wilayah Jawa sudah naik 5,9% secara year-on-year (yoy) menjadi Rp 20.400 per kg. 

Kenaikan harga ayam boiler ini seiring adanya dua instruksi pemusnahan (culling) berturut-turut pada periode November dan Desember 2021, masing-masing sebesar 94 juta final stock (FS) dan 150 juta FS. Angka ini naik dari pemusnahan bulanan rata-rata yang hanya di kisaran 50 juta FS sampai 70 juta FS.


Memasuki Januari, Emma menyebut harga ayam boiler akan tetap kuat, berkisar di harga Rp 21.500 per kg, naik 5,4% secara bulanan. Kenaikan harga boiler ini berkaitan dengan mobilitas masyarakat yang terus meningkat seiring kebijakan pemerintah untuk mencabut pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) ketat selama liburan akhir tahun.

Baca Juga: Negara Berkembang Hadapi Tekanan dari The Fed, Sektor Saham-Saham Ini Menarik Dilirik

Pada Januari ini, pemerintah menginstruksikan pemusnahan pada tingkat stok akhir (FS) telur tetas berusia 19 hari sebanyak 142 juta butir. Instruksi pertama tahun ini berlaku efektif selama enam pekan, yakni 8 Januari sampai 19 Februari 2022. Sejauh ini, periode Januari menjadi bulan ketiga berturut-turut dimana tingkat culling berada di atas rata-rata culling bulanan

Sehingga, harga broiler yang tinggi menjadi katalis positif bagi perusahaan unggas karena meningkatkan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) untuk penjualan unggas hidup. 

Akan tetapi, pemusnahan ini juga mendorong harga day old chicken (DOC), yang harus ditanggung oleh peternak kecil mandiri. Apalagi, kenaikan harga jagung (yang menjadi pakan ternak ) memberikan tekanan kenaikan tambahan dari harga bahan baku. 

Selain itu, kenaikan harga broiler juga mendorong harga ayam di tingkat konsumen. “Oleh karena itu, kami memperkirakan jumlah pemusnahan (culling) akan normal dalam beberapa bulan mendatang untuk mencegah harga ayam naik lebih tinggi,” terang Emma. 

Analis BRIDanareksa Sekuritas Victor Stefano menyebut, industri unggas masih menghadapi ketidakpastian pada tahun 2022, meskipun memang membaiknya prospek ekonomi dapat mendukung konsumsi ayam. 

Baca Juga: Sempat Lompat 24%, Begini Rekomendasi Saham Indika Energy (INDY)

Victor mengatakan, permintaan terhadap ayam telah meningkat dan kenaikan tersebut akan berlanjut tahun ini. Pemulihan okupansi hotel dan destinasi wisata dapat mendorong peningkatan konsumsi ayam. Hal ini dibuktikan dengan tingginya harga ayam dan telur pada akhir tahun 2021. 

Namun, sejumlah risiko masih menggelayuti. Dari sisi pasokan, risiko yang mengintai termasuk biaya bahan baku yang tinggi, produktivitas yang lebih rendah akibat cuaca yang ekstrim, dan potensi gangguan distribusi akibat bencana alam. Sementara risiko permintaan berasal dari pendemi Covid-19, daya beli yang lemah, dan kenaikan inflasi.

 
JPFA Chart by TradingView

Editor: Tendi Mahadi