Permintaan Emas Masih Cukup Kuat, Cermati Saham Rekomendasi Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan harga emas dunia menjadi berkah bagi emiten produsen emas di Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun, kenaikan harga komoditas tidak serta-merta membuat seluruh saham emas memiliki prospek yang sama.

Berdasarkan data Trading Economics, Selasa (11/8/2026) pukul 17.18 WIB, harga emas dunia telah melonjak 10,29% dalam sebulan menjadi US$ 4.374,54 per ons troi. Penguatan harga emas tersebut turut mengerek saham sejumlah emiten produsen emas.

Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), misalnya, naik 6,55% dalam sebulan ke level Rp 3.090 per saham pada Selasa (11/8). Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga melesat 18,81% menjadi Rp 600 per saham.


Kenaikan lebih tinggi dicatat PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), yang sahamnya menguat 21,08% dalam sebulan ke Rp 4.250 per saham.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Lanjut Reli, Cermati Saham Rekomendasi Analis, Rabu (17/6)

Sementara itu, saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) terbang 37,22% menjadi Rp 7.650 per saham dan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) naik 22,50% ke Rp 1.225 per saham.

Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai sektor emas masih memiliki prospek menarik seiring kembali menguatnya harga komoditas tersebut.

Secara teknikal, area US$ 4.000 per ons troi menjadi level support psikologis yang cukup kuat. Selama harga emas mampu bertahan di atas level tersebut, harga emas berpeluang tetap berada di level tinggi dalam waktu lebih lama.

Permintaan emas juga masih cukup kuat, terutama dari bank sentral yang meningkatkan diversifikasi cadangan devisanya.

Kondisi tersebut berpotensi menjadi katalis bagi kinerja emiten emas pada semester II-2026. Meski begitu, kenaikan harga emas tidak otomatis menghasilkan peningkatan kinerja yang sama bagi seluruh emiten.

Baca Juga: Dana Asing Kabur Rp 8,5 Triliun Karena Rebalancing MSCI, Cek Saham Rekomendasi Analis

"Harga emas yang tinggi tidak akan memberikan dampak optimal apabila produksi turun atau biaya penambangan meningkat terlalu cepat," ujar Ekky kepada KONTAN, Selasa (11/8).

Menurut dia, investor perlu melihat sejumlah faktor selain harga emas, seperti volume produksi, kadar bijih, tingkat perolehan (recovery rate), biaya produksi all-in sustaining cost (AISC), serta keberhasilan ekspansi tambang.