Pertamina targetkan skema kemitraan di Kilang Cilacap rampung kuartal I 2020



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina (Persero) masih berharap bisa menggarap Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Cilacap bersama Saudi Aramco. Namun, pemilihan skema kerjasama dan juga valuasi aset eksisting masih menjadi pembicaraan.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, pihaknya menawarkan opsi kerjasama seperti di Kilang Balikpapan. Dengan begitu, tidak perlu tidak dilakukan spin-off, sehingga Pertamina dan Saudi Aramco akan membangun fasilitas baru tanpa menyertakan akses eksisting.

Baca Juga: OPEC pangkas produksi, nilai impor minyak Indonesia bisa meningkat


"Dengan Aramco masih berjalan tapi sekarang ada opsi lain dari model kerjasama. Jadi model kerjasama kedua adalah seperti di Balikpapan," katanya di Kementerian BUMN, Kamis (12/12).

Jika skema kerjasama ini yang diterapkan, maka Pertamina dan Saudi Aramco bisa membuat anak usaha yang juga akan mengoperasikan kilang tersebut, dan selanjutkan diterapkan skema pengenaan tarif atau toll fee. Nicke menargetkan, kepastian mengenai skema kerjasama ini sudah bisa didapatkan pada Kuartal-I tahun depan.

"Kita membangun kilang baru. Kilang existing akan dioperasikan, tapi nanti skemanya dengan toll fee. Sama seperti Balikpapan. Jadi ini yang akan dilanjutkan dan kita ditargetkan di kuartal I 2020 harus sudah selesai," terangnya.

Opsi kerjasama dengan skema seperti ini bergulir lantaran Pertamina dan Aramco tak juga menemukan kata sepakat terkait dengan valuasi aset lantaran masih ada selisih nilai di antara keduanya.

Terkait hal ini, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan pada Selasa (10/12) lalu mengungkapkan, perhitungan valuasi ini masih menyisakan perbedaan nilai sekitar US$ 1,5 miliar. Jika tak kunjung diperoleh titik temu, kata Luhut, maka Pertamina didorong untuk mencari mitra lain jika skema kerjasama lain juga menemui jalan buntu.

Baca Juga: Pengusaha lokal minta diprioritaskan dalam dual FEED dan EPC di blok Masela

Luhut menargetkan, perhitungan valuasi ini bisa rampung di tahun ini. "Kalau selisih mereka US$ 1,5 miliar kan sayang," ungkapnya.

Editor: Khomarul Hidayat