Perusahaan Jeff Bezos, Amazon ancam memecat karyawan yang berbicara perubahan iklim



KONTAN.CO.ID -  Sekelompok karyawan Amazon mengatakan perusahaan yang dipimpin Jeff Bezos tersebut telah mengancam akan memecat dua pekerja mereka karena berbicara menentang kebijakan lingkungan perusahaan.

Dalam sebuah pernyataan yang diposting di Twitter pada hari Kamis, Karyawan Amazon untuk Keadilan Iklim mengatakan bahwa beberapa karyawan dihubungi oleh perwakilan hukum dan sumber daya manusia, yang mengatakan mereka melanggar kebijakan komunikasi eksternal perusahaan.

Baca Juga: Warren Buffett ungkap nasihat yang sangat diperlukan untuk mencapai sukses


"Dua karyawan diberi tahu bahwa peran mereka akan dihentikan jika mereka terus berbicara tentang bisnis Amazon," kata seorang juru bicara kelompok itu kepada CNBC.

Maren Costa, seorang perancang berpengalaman merupakan salah satu karyawan Amazon yang terancam dipecat. Dalam pernyataannya, Costa mengatakan:

“Ini bukan waktunya untuk menembak para utusan. Ini bukan waktunya untuk membungkam mereka yang berbicara," ujarnya.

Perusahaan yang didirikan Jeff Bezos ini juga mengancam akan menghentikan Jamie Kowalski, seorang insinyur pengembangan perangkat lunak, menurut The Washington Post, yang pertama kali melaporkan berita tersebut pada hari Kamis.

Kowalski dan Costa mengatakan mereka menerima surat dari salah satu pengacara Amazon setelah berbicara di depan umum pada bulan Oktober, tulis mereka melaporkan.

Baca Juga: Bill Gates rekomendasikan lima buku ini untuk tahun 2020

Dalam pernyataan itu, kelompok karyawan mengklaim bahwa Amazon mengubah kebijakannya pada bulan September dan bahwa kebijakan yang diperbarui “mengharuskan karyawan untuk meminta persetujuan sebelumnya berbicara tentang Amazon di forum publik mana pun ketika diidentifikasi sebagai karyawan.”

Namun, Jaci Anderson, juru bicara Amazon, mengatakan kebijakan komunikasi perusahaan bukanlah hal yang baru.

Pada bulan September, Amazon benar-benar mencoba untuk memudahkan karyawan untuk berbicara dengan menambahkan formulir di situs web internal di mana karyawan dapat meminta persetujuan; sebelum itu, mereka harus mendapatkan persetujuan langsung dari wakil presiden senior.

Editor: Noverius Laoli