PLN beberkan kendala yang bisa hambat konversi kompor LPG ke kompor induksi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Program konversi satu juta kompor LPG menjadi kompor induksi listrik mulai dijalankan oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Efektivitas program ini dinilai bergantung pada berapa banyak kompor LPG yang berhasil dikonversi menjadi kompor induksi.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform Fabby Tumiwa mengaku, program konversi kompor LPG menjadi kompor induksi bukan tanpa kendala.

Salah satunya adalah kompor induksi membutuhkan daya listrik yang besar. Biasanya, kompor tersebut memiliki daya listrik mulai dari 800 watt—1.400 watt per unit atau rata-rata di kisaran 1.000 watt—1.200 watt per unit.


“Artinya hanya rumah tangga yang tersambung listrik minimal 2.200 VA atau bahkan 3.300 VA ke atas yang berpotensi mengganti kompor LPG ke kompor induksi,” ungkap dia, Jumat (11/9).

Baca Juga: PLN gencar melakukan konversi kompor LPG ke kompor induksi listrik

Di samping itu, faktor harga jual yang relatif mahal juga dapat mempengaruhi minat masyarakat terhadap kompor induksi.

Menurut Fabby, kompor induksi berkualitas baik dibanderol di kisaran Rp 700.000 hingga Rp 2 juta per unit. Dengan harga tersebut, masyarakat yang bisa membeli kompor induksi juga lebih terbatas.

Memang, kompor induksi sejatinya dapat membawa manfaat besar bagi penggunanya. Salah satu keunggulan kompor induksi adalah tingkat keamanannya yang lebih baik ketimbang kompor LPG.

Kompor induksi juga lebih hemat energi karena tingkat efisiensi yang lebih tinggi, ditambah biaya energi untuk memasak dengan kompor tersebut 10%--15% lebih rendah dibandingkan kompor LPG.

Baca Juga: Dorong penggunaan kompor Iinduksi, PLN luncurkan Program Kampung Listrik

Dengan kualitas dan karakteristik kompor induksi yang ada saat ini, kompor tersebut bisa didorong pemanfaatannya untuk masyarakat yang tinggal di perkotaan.

Misalnya, masyarakat kelas menengah yang menjadi pelanggan PLN rumah tangga berdaya 2.200 VA ke atas. “Kompor induksi juga cocok bagi masyarakat yang tinggal di hunian-hunian vertikal atau apartemen,” tandas Fabby.

Editor: Noverius Laoli