KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Prabowo Subianto bakal meresmikan proyek Refinery Development Master Plan atau RDMP Balikpapan pada Senin (12/1/2026). RDMP Balikpapan adalah salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang memiliki infrastruktur energi terintegrasi, dirancang PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) melalui anak usahanya, PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB) untuk mewujudkan swasembada energi nasional. Asal tahu saja, Proyek modifikasi kilang ini menelan investasi mencapai Rp123 triliun. Adapun, proyek ini awalnya telah diinisiasi PT Pertamina (Persero) sejak 2016 lalu. Hanya saja, rencana pengerjaan mundur dari tenggat awal yang ditetapkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2019. Baca Juga: Besok Malam, Presiden Prabowo Bakal Berpidato di Forum PBB Vice President Corporate Communication PT Pertamina, Muhammad Baron, menyampaikan bahwa RDMP Balikpapan merupakan proyek strategis yang dibangun secara terintegrasi dari penyediaan bahan baku, pipa transfer hingga produksinya. “RDMP Balikpapan menjadi fondasi penting penguatan sistem energi nasional. Melalui pengembangan infrastruktur yang terintegrasi, Pertamina memastikan keandalan pasokan minyak mentah dan operasional kilang yang lebih efisien dan berkelanjutan,” ujar Baron melalui keterangan tertulis, dikutip pada Senin (12/1/2025). RDMP Balikpapan dirancang dan dilaksanakan dalam tiga lingkup utama proyek yang saling terhubung dan terintegrasi. Pertama adalah early work, menjadi fondasi penting untuk mendukung kelancaran dan keselamatan seluruh tahapan konstruksi utama RDMP Balikpapan. Tahap ini mencakup 16 paket pekerjaan pendahuluan meliputi persiapan dan pematangan lahan, pembangunan infrastruktur dasar, penyediaan utilitas sementara, serta pembangunan fasilitas penunjang konstruksi. Baca Juga: Prabowo Minta 18 Proyek Hilirisasi Senilai Rp 600 Triliun Rampung pada Akhir 2025 Kedua, Pertamina melaksanakan pengembangan dan pembangunan fasilitas utama kilang yang mencakup 39 unit, terdiri dari 21 unit proses baru, serta 13 unit fasilitas utilitas pendukung. Tidak hanya membangun unit baru, proyek ini juga merevitalisasi 4 unit fasilitas utama pengolahan, antara lain unit distilasi minyak mentah, unit pengolahan residu, unit hydrocracking dan hydrotreating, serta pemulihan LPG. "Pembangunan dan revitalisasi unit-unit ini bertujuan untuk meningkatkan fleksibilitas dan keandalan pengolahan minyak mentah, sekaligus mendukung peningkatan kualitas produk BBM sesuai standar yang lebih tinggi," jelas Baron. Ketiga, penguatan infrastruktur penerimaan dan penyaluran minyak mentah, yang mencakup pembangunan dua tangki penyimpanan minyak mentah berkapasitas masing-masing 1 juta barel.
Baca Juga: Prabowo Bakal Beri Insentif Rp 1 Miliar bagi Atlet Peraih Emas di Sea Games Thailand Pada tahap ini, Pertamina juga membangun jaringan pipa transfer
line onshore dan
offshore berdiameter 20 inci,
unloading line onshore dan
offshore berdiameter 52 inci, serta fasilitas
Single Point Mooring (SPM) dengan kapasitas sandar kapal hingga 320.000 DWT. Infrastruktur ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi, keamanan, dan keandalan penerimaan minyak mentah dari kapal tanker berkapasitas besar.