Prospek kesepakatan dagang AS-China kian suram, ini sejumlah indikasinya



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Komentar Presiden AS Donald Trump bahwa perjanjian perdagangan dengan China mungkin harus menunggu sampai akhir 2020 menimbulkan keraguan baru tentang kapan perselisihan itu akan berakhir. Belum kelar masalah tersebut, diloloskannya RUU Muslim Uighur oleh DPR AS kembali memicu kemarahan Beijing.

"Dalam beberapa hal, saya menyukai gagasan untuk menunggu sampai setelah pemilihan untuk kesepakatan China. Tetapi mereka ingin membuat kesepakatan sekarang, dan kita akan melihat apakah kesepakatan itu akan berjalan dengan benar," kata Trump kepada wartawan di London seperti yang dikutip Reuters. Pernyataan ini memicu penurunan tajam di pasar saham global dan terjadinya peralihan aset dari saham ke obligasi pemerintah.

Baca Juga: IHSG masih di zona negatif di tengah memerahnya pasar saham Asia


Persetujuan DPR AS atas rancangan undang-undang yang mewajibkan pemerintah Trump untuk memperkuat tanggapannya atas tindakan keras China terhadap Muslim Uighur di wilayah barat Xinjiang dapat menyebabkan kemunduran lain dalam negosiasi perdagangan.

RUU Uighur, yang disahkan 407-1 di DPR yang dikontrol Demokrat, mengharuskan presiden AS untuk mengutuk pelanggaran terhadap Muslim dan menyerukan penutupan kamp-kamp penahanan massal di Xinjiang. RUU ini juga menyerukan Trump untuk menjatuhkan sanksi untuk pertama kalinya pada anggota politbiro kuat China, Sekretaris Partai Komunis Xinjiang, Chen Quanguo.

Baca Juga: DPR AS loloskan RUU Uighur China, kemarahan Beijing meluap-luap

Beijing menyebut RUU itu sebagai serangan jahat terhadap China, menuntut Amerika Serikat agar tidak menjadi undang-undang dan mengatakan akan bertindak untuk membela kepentingannya sebagaimana diperlukan.

Seseorang yang akrab dengan pemerintah Cina pada negosiasi perdagangan mengatakan kepada Reuters bahwa kesepakatan perdagangan fase satu bisa dalam bahaya jika RUU DPR tentang Uighur disahkan menjadi hukum.

Baca Juga: Harga emas naik 0,14% di level US$ 1.479,66 per ons troi

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie