Prospek sejumlah saham pembagi dividen di tahun lalu



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investor mendapatkan berkah dari beberapa saham yang pada akhir tahun 2020 lalu membagikan dividen interim dan harga sahamnya menguat bila dihitung sejak awal tahun lalu.

Sebut saja PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang membagikan dividen interim Rp 98 per saham atau setara dividen yield 0,3%. Adapun harga saham BBCA naik 1,27% ytd ke level Rp 33.850 di tahun lalu.

Kemudian, saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) yang menguat 19,25% ytd di 2019 membagikan dividen senilai Rp 6 per saham, dengan dividend yield 0,6%.


Selanjutnya saham PT Unggul Indah Cahaya Tbk (UNIC) yang mendaki 22,08% di tahun lalu. UNIC sendiri membagikan dividen interim Rp 110 per saham dengan dividen yield 2,04%.

Baca Juga: IHSG diprediksi menguat Senin (4/1), berikut rekomendasi saham yang bisa dicermati

Terakhir ada PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) yang harganya naik 1,82% ytd di 2019. META membagikan dividen interim Rp 2 per saham dengan yield 0,88%.

CEO Sucor Sekuritas Bernadus Wijaya mengatakan, keempat saham tersebut membahagikan dividen yang relatif kecil, sehingga dalam jangka pendek tidak akan terlalu mempengaruhi pergerakan harga sahamnya.

Namun dari keempat saham tersebut, saham yang cukup menarik adalah BBCA. Hal ini dikarenakan seiring dengan pulihnya perekonomian pasca.

"Perbankan merupakan sektor yang akan sangat diuntungkan dengan pulihnya ekonomi. Selain itu, dengan kecenderungan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) yang melemah terhadap rupiah, investor asing juga diperkirakan akan masuk ke Indonesia. Dan sebagai sektor yang weighing IHSG paling besar, sektor perbankan akan sangat diuntungkan," jelas Bernadus, Minggu (3/1).

Bernadus justru melihat saham yang sangat menarik perhatian di 2020 dari sisi dividen adalah PTBA. Tahun lalu, PTBA membagikan dividen dengan yield sekitar 13%.

Sektor batubara Indonesia juga diuntungkan dengan kebijakan China yang mensuspensi impor batubara dari Australia. Selain itu, harga batubara juga telah pulih ke US$ 80 per ton.

Baca Juga: Melemah di akhir 2020, ini proyeksi pergerakan IHSG di awal tahun 2021

Editor: Khomarul Hidayat