Proyeksi IHSG dan Saham Pilihan Analis Jelang Rebalancing LQ45 dan Update MSCI



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku pasar diperkirakan akan bersikap lebih hati-hati pekan ini, menyusul jadwal rebalancing indeks LQ45 oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) dan pengumuman pembaruan metodologi free float oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada 30 Januari 2026.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai volatilitasi IHSG dalam jangka pendek masih tinggi dengan kecenderungan melemah. 

Menurutnya, perubahan metodologi MSCI terkait free float berpotensi memicu arus keluar dana asing, sehingga investor cenderung mengurangi eksposur dan bersikap defensif sambil menunggu kepastian keputusan.


Secara teknikal, IHSG masih berada dalam fase bullish dengan peluang rebound dari area support 8.825–8.880. Jika rebound berlanjut, indeks berpotensi menembus resistance 9.030–9.132 pekan ini. 

Baca Juga: Simak Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham dari MNC Sekuritas Senin (19/1)

Namun, jika gagal menembus resistance 8.980, IHSG berisiko melanjutkan pelemahan menuju support sekitar 8.850. Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, Hari Rachmansyah, memprediksi pergerakan IHSG pekan ini akan konsolidatif dengan support 8.950 dan resistance 9.080.

Rebalancing LQ45 menjadi salah satu pemicu utama volatilitas. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa saham-saham LQ45 yang memiliki likuiditas tinggi sering mengalami fluktuasi signifikan saat komposisinya diubah. 

Meski demikian, rebalancing juga dapat menjadi katalis masuknya dana asing maupun investor institusi. 

Nafan menyarankan investor tetap mengedepankan analisis teknikal, sambil memperhatikan valuasi, kinerja fundamental, dan arus kas emiten. Saham LQ45 berkapitalisasi besar seperti BBCA, BMRI, TLKM, BBNI, dan ADRO disebut layak dicermati.

Research Analyst Henan Sekuritas, James Stanley Widjaja, menambahkan bahwa saham yang berpotensi masuk LQ45 kerap mengalami pembelian terpaksa (forced buying), namun tetap fluktuatif dalam jangka pendek. 

Baca Juga: Aksi Buyback Ramai pada Januari 2026, Cermati Saham Rekomendasi Analis

Ia menekankan strategi investasi harus disesuaikan dengan profil risiko, dengan mempertimbangkan kondisi makroekonomi dan fundamental emiten. Bagi investor jangka panjang, rebalancing bisa dijadikan momentum evaluasi portofolio.