Puluhan perusahaan besar di Amerika bangkrut dan ajukan pailit



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Resesi yang terjadi di sejumlah negara menyebabkan kolapsnya perekonomian dan bisnis. Tak terkecuali Amerika Serikat. Bahkan, perekonomian AS sempat terperosok hingga lebih dari 30% secara tahunan pada kuartal II tahun ini.

Banyak perusahaan di Negeri Paman Sam pun mengalami kebangkrutan dan mengajukan pailit akibat tidak mampu bertahan di tengah resesi yang disebabkan pandemi.

Dikutip dari CNN, Senin (14/9/2020) tingkat kebangkrutan perusahaan-perusahaan besar di AS meningkat hingga 244% sepanjang Juli hingga Agustus jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.


Kondisi tak banyak berubah meski pemerintah setempat serta The Fed telah menggelontorkan berbagai stimulus untuk perekonomian. Beberapa perusahaan besar yang diketahui telah mengajukan pailit seperti Brooks Brothers, Hertz, California Pizza Kitchen, serta Chuck E, Cheese.

Baca Juga: Tren kebangkrutan di Amerika Serikat terus meningkat, sektor ini paling banyak

Selain itu, masih banyak perusahaan lain yang juga mengajukan hal serupa sejak awal musim panas ini. Meski demikian, terdapat beberapa korporasi seperti perusahaan dekorasi serta perlengkapan rumah JCPenney yang berhasil mendapatkan investor untuk menyelamatkan perusahaan dari kebangrkutan.

Bank investasi asal Amerika Serikat Jefferies mengatakan terdapat beberapa sektor usaha yang mengalami pukulan cukup hebat dan mengalami lonjakan pengajuan dokumen kepailitan. Salah satunya, tingkat kebangkrutan di industri aviasi yang meroket hingga 110%, sementara di industri minyak dan gas yang meningkat hingga 45%.

Baca Juga: Gelombang kebangkrutan di Jepang, hampir 500 perusahaan bangkrut selama pandemi

Sementara untuk industri hiburan, jumlah pengajuan dokumen pailit mencapai 22%. Banyak pihak pun menilai, lonjakan kebangkrutan ini belum mencapai puncak. "Ini belum mencapai titik tertinggi. Titik puncak baru akan terjadi ketika pemerintah mulai menghentikan paket stimulus," ungkap Joseph Acosta, mitra di Dorsey & Whitney yang fokus pada isu kebangkrutan.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie