Redam aksi protes, Thailand cabut keadaan darurat di Bangkok



KONTAN.CO.ID - BANGKOK. Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha mengatakan pada Rabu (21/10), dia siap untuk mencabut langkah-langkah darurat yang berlaku pekan lalu untuk menghentikan aksi protes di Bangkok.

Keadaan darurat sejak Kamis (15/10) pekan lalu memicu demonstrasi puluhan ribu orang, terbesar dalam tiga bulan terkahir, untuk menuntut pencopotan Prayuth dan reformasi kekuasaan Raja Maha Vajiralongkorn.

"Saya akan mengambil langkah pertama untuk meredakan situasi ini. Saya saat ini bersiap untuk mencabut keadaan darurat di Bangkok dan akan segera melakukannya jika tidak ada insiden kekerasan," katanya dalam pidatonya seperti dikutip Reuters.


Keadaan darurat itu melarang kegiatan yang melibatkan lima orang atau lebih dan publikasi informasi yang dianggap mengancam keamanan.

Baca Juga: Hadapi pendemo, pendukung Raja Thailand turun ke jalan

"Sekarang kita harus mundur dari tepi lereng licin yang mudah bergeser menjadi kekacauan," sebut Prayut.

Protes telah menjadi tantangan terbesar bagi Thailand selama bertahun-tahun. Dan, telah menarik oposisi paling terbuka terhadap monarki dalam beberapa dekade, meskipun undang-undang lese majeste menetapkan hukuman penjara hingga 15 tahun karena menghina keluarga kerajaan.

Prayut harus mengundurkan diri

Saat Prayut berbicara, puluhan ribu pengunjuk rasa berbaris menuju kantornya di Gedung Pemerintah untuk menuntut pengunduran dirinya serta pencabutan keadaan darurat dan pembebasan puluhan aktivis yang ditangkap.

"Itu (pencabutan keadaan darurat) tidak cukup. Dia (Prayut) harus mengundurkan diri," kata Too, salah satu peserta demo.

Baca Juga: Di tengah aksi unjuk rasa, pariwisata Thailand kembali terbuka untuk turis asing

Editor: S.S. Kurniawan