Rekaman suaranya bocor, Pemimpin Hong Kong tegaskan dia tidak akan mengundurkan diri



KONTAN.CO.ID - HONG KONG. Pemimpin Hong Kong Carrie Lam Cheng Yuet-ngor bersikeras dia tidak pernah menawarkan untuk mengundurkan diri. Melansir South China Morning Post, Dia juga membantah tudingan bahwa Beijing yang menahannya untuk mengundurkan diri. Lam menegaskan, dia tetap menjadi pemimpin Hong Kong karena pilihannya sendiri dengan harapan dapat menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi Hong Kong saat ini.

Pernyataan Lam diutarakan selang sehari setelah bocornya rekaman audio yang memperdengarkan dirinya mengatakan dalam rapat tertutup bahwa dia akan berhenti karena menyebabkan "malapetaka yang tak termaafkan" ke Hong Kong.

Baca Juga: Jika punya pilihan, Pemimpin Hong Kong siap mundur


Hong Kong telah dicengkeram oleh aksi unjuk massa yang dipicu oleh RUU ekstradisi yang sudah berlangsung sejak Juni. Aksi demonstrasi ini telah berjalan selama 13 pekan berturut-turut. Dari aksi itu, sekitar 1.117 pengunjuk rasa telah ditangkap.

Sebelum pertemuan Dewan Eksekutif mingguannya, Lam ditanya apakah Beijing mencegahnya mundur. "Tentang pengunduran diri, saya katakan dalam beberapa kesempatan sebelumnya dan juga ditegaskan oleh rekan-rekan saya dalam menanggapi pertanyaan media bahwa selama periode ini ... Saya tidak pernah mengajukan pengunduran diri kepada pemerintah pusat," tegasnya.

Dia melanjutkan, “Saya bahkan belum mempertimbangkan untuk membahas pengunduran diri dengan pemerintah pusat. Pilihan untuk tidak mengundurkan diri adalah pilihan saya sendiri.”

Baca Juga: Hong Kong rusuh di akhir pekan, polisi anti huru hara turun ke jalan

Lam menjelaskan, dalam rekaman itu dia hanya mencoba menjelaskan bahwa pengunduran diri mungkin merupakan pilihan yang mudah.

"Tetapi saya mengatakan kepada diri saya berulang kali dalam tiga bulan terakhir bahwa saya dan tim saya harus tetap membantu Hong Kong, membantu Hong Kong dalam situasi yang sangat sulit, dan untuk melayani masyarakat Hong Kong," katanya seperti yang dilansir Reuters.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie