KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Reli harga komoditas energi mulai tertahan setelah sebelumnya melonjak akibat meningkatnya risiko gangguan pasokan di tengah eskalasi geopolitik. Namun, harga energi diperkirakan masih bergerak volatil hingga akhir 2026 karena risiko geopolitik belum sepenuhnya mereda. Melansir
Trading Economics pada Kamis (17/9/2026) pukul 16.50 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 101,5 per barel atau melemah 1,05% dalam sehari tetapi melonjak 21,2% sebulan terakhir.
Kemudian minyak Brent dihargai US$ 104,4 per barel, mengalami pelemahan 1,2% secara harian dan masih mencatat kenaikan 15% sebulan.
Baca Juga: Reli Harga Minyak Terhenti: Harga Brent dan WTI Ditutup Melemah Hampir 1% Ada pun harga batubara bertengger di level US$ 144,8 per ton mengalami kenaikan tipis 0,1% sehari dan melonjak 11,9% dalam satu bulan. Kemudian gas alam dihargai US$ 2,89 per MMBtu menguat tipis 0,01% sehari dan menguat 4,41% sebulan terakhir. Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan kenaikan harga minyak belakangan ini dipicu meningkatnya risiko gangguan pasokan akibat eskalasi geopolitik. Namun, momentum kenaikan mulai tertahan seiring adanya upaya pemulihan infrastruktur dan pasokan. Salah satunya rencana Arab Saudi memulihkan kapasitas pipa Timur-Barat secara bertahap. "Jika gangguan pasokan berangsur normal, harga berpotensi terkoreksi, meskipun risiko geopolitik masih menjadi faktor utama yang bisa kembali mendorong kenaikan," ujar Lukman kepada Kontan, Kamis (17/9/2026). Lukman menjelaskan, dalam jangka pendek, risiko gangguan pasokan akibat geopolitik masih menjadi faktor dominan yang menentukan pergerakan harga minyak.
Baca Juga: Reli Harga Minyak Terus Berlanjut, Seiring Memburuknya Permusuhan di Timur Tengah Namun, seiring berjalannya waktu, pasar akan kembali mencermati seberapa cepat produksi dan distribusi energi global dapat pulih. Jika pasokan kembali normal, ruang kenaikan harga minyak akan semakin sulit dipertahankan. "Untuk WTI dan Brent, dalam jangka pendek risiko gangguan pasokan akibat geopolitik masih menjadi faktor dominan, tetapi semakin lama pasar akan kembali fokus pada seberapa cepat produksi dan distribusi global pulih," ujar Lukman. Soal ini Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan, kebijakan The Fed dapat memengaruhi harga minyak terutama melalui pergerakan dolar AS, ekspektasi pertumbuhan ekonomi, dan sentimen risiko. The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan menjadi 3,75%-4,0% dalam rapat FOMC September. Sejalan dengan itu, indeks dolar AS (DXY) mengalami penguatan. Saat ini, DXY bertengger di level 100,2 atau menguat 1,1% sepekan. "Penguatan dolar dapat membuat minyak relatif lebih mahal bagi pembeli non-AS dan menekan permintaan. Suku bunga yang lebih tinggi juga berpotensi memperlambat aktivitas ekonomi AS dan global sehingga menjadi sentimen negatif bagi demand minyak," jelas Geraldo.
Kemudian Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan mencermati, pergerakan harga minyak saat ini masih dipengaruhi oleh eskalasi geopolitik dan meningkatnya risiko distribusi energi di kawasan Timur Tengah. Risiko tersebut tidak hanya berpusat di Selat Hormuz.
Baca Juga: Harga Minyak Naik Lebih dari US$1, Konflik AS-Iran Ganggu Selat Hormuz Meningkatnya ancaman di Bab el-Mandeb dan Laut Merah turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kelancaran distribusi energi global. "Artinya, pasar sekarang memasukkan
war premium sekaligus
logistics premium, sehingga ruang kenaikan masih terbuka," ujar Brahmantya.