Rencana Penangkapan Vladimir Putin Ditolak Mentah-mentah oleh Trump



KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menepis pernyataan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy yang menyebut Amerika Serikat berpotensi menangkap Presiden Rusia Vladimir Putin, menyusul langkah Washington sebelumnya terhadap diktator Venezuela Nicolás Maduro.

Mengutip Fox News, Trump menolak gagasan operasi semacam itu, sembari meluapkan kekecewaannya atas perang yang terus berlarut-larut dan kegagalannya sejauh ini untuk mengakhirinya.

Selama masa kampanye, Trump berulang kali mengatakan bahwa ia bisa mengakhiri perang tersebut pada hari pertamanya kembali menjabat. Namun, meski telah bertemu baik dengan Zelenskyy maupun Putin, solusi konflik itu masih belum tercapai.


“Saya rasa itu tidak akan diperlukan,” kata Trump saat menjawab pertanyaan dari jurnalis Fox News, Peter Doocy, dalam pertemuan dengan para eksekutif perusahaan minyak AS di Gedung Putih, Jumat.

Trump mengatakan ia selama ini memiliki hubungan yang sangat baik dengan Putin, meski kini merasa kecewa.

“Saya selalu punya hubungan yang hebat dengannya. Saya sangat kecewa,” ujar Trump. “Saya sudah menyelesaikan delapan perang. Saya kira yang satu ini akan berada di tengah-tengah atau bahkan termasuk yang lebih mudah.”

Baca Juga: Upaya AS Menguasai Greenland Bikin Khawatir dan Takut Penduduk Greenland

Trump menyebut konflik Rusia-Ukraina terus menimbulkan korban besar, terutama di pihak Rusia, dan mengklaim perekonomian Moskow tengah terpukul.

“Dalam satu bulan terakhir, mereka kehilangan 31.000 orang, sebagian besar tentara Rusia,” kata Trump. Ia menambahkan bahwa ekonomi Rusia saat ini “sedang tidak baik-baik saja”.

“Saya pikir pada akhirnya kita akan bisa menyelesaikannya,” lanjut Trump. “Saya berharap ini bisa dilakukan lebih cepat, karena terlalu banyak orang yang meninggal.”

Trump juga menyoroti besarnya korban di kalangan militer.

“Sebagian besar yang terdampak adalah tentara,” katanya. “Ketika 30.000 hingga 31.000 tentara tewas dalam satu bulan, lalu 27.000 bulan sebelumnya, dan 26.000 pada bulan sebelumnya lagi. Itu sangat buruk.”

Baca Juga: Iran Siap Menyerang Jika AS Intervensi, Protes Masih Bergolak di Tehran