Riuh euforia kendaraan listrik, akankah industri hulu migas padam…



KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi tampaknya harus siap-siap membuat landskap industri hulu migas kedepan. Ini upaya menjawab euforia listrik sebagai subtitusi bahan bakar bagi kendaraan bermotor.

Padahal, kata Kepala SKK Migas Dwi Seotjipto, euforia listrik tidak perlu dipertentangkan dengan bahan bakar minyak (BBM). “Malah bagus adanya bauran energi, SKK Migas mendukung,” ungkap dia kepada Kontan.co.id dalam wawancara khusus di kantornya.

Malah, dengan peralihan kendaraan fosil menjadi kendaraan listrik maka neraca dagang Indonesia tidak lagi defisit lagi lantaran masih bertumpu pada impor minyak.


Sedangkan minyak nantinya akan beralih untuk digunakan sebagai bahan baku produk petrokimia. Lantas bagaimana sebenarnya landskap industri migas paska teknologi listrik masuk ke industri otomotif? Wartawan Kontan.co.id Azis Husaini dan Filemon Agung mewawancarai Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto di ruangannya, Kamis (14/8) malam. Berikut nukilan wawancara lengkapnya:

KONTAN: Soal industri hulu migas ke depan termasuk eksplorasi dan landskap hulu kita bagaimana?

DWI SOETJIPTO: Waktu saya masuk ke sini (SKK Migas) publik menilai bahwa industri hulu migas ini sudah habis. Tetapi, saya mencoba melihat dari sisi yang lain, apa benar sudah habis? dari beberapa referensi, ada hal yang cukup menarik bahwa kita memiliki 128 cekungan migas, yang di eksplorasi dan eksploitasi baru sebanyak 54 cekungan, dan ada 74 cekungan lagi yang belum digarap. Lalu apakah mungkin kita memasuki golden era oil and gas kembali? Dari pemikiran itu, kami coba dengan kawan-kawan (SKK Migas) berpikir.

KONTAN: Potensi 74 cekungan itu bagaimana, sudah ada yang mencoba mencari?

DWI SEOTJIPTO: Saya berpikir, kayak apa sih potensi Indonesia? Kita coba, yakin bahwa kita punya keyakinan bisa saja terjadi (golden era oil and gas). Saya selalu cerita bahwa 20 tahun lalu Amerika Serikat itu importir minyak, tetapi sekarang Amerika Serikat adalah eksportir minyak yang menentukan harga minyak bersama Rusia dan Arab Saudi.

Kenapa begitu, karena teknologi semakin berkembang. Mereka rupanya serius menggarap shale oil dan gas. Tetapi untuk mengeluarkan (shale oil and gas) dari dalam perut bumi itu tidak gampang, dan mereka menemukan teknologi yang akhirnya mereka mendapatkan. Mestinya kita berpikir demikian.

KONTAN: Caranya bagaimana, lifting saja terus turun?

DWI SEOTJIPTO: Ada empat strategi, pokok upaya mempertahankan produksi. Pertama, optimalisasi dari produksi, jadi bagaimana mengelola reservoir, eksekusi Work Plan and Budget, ini yang kita harus kontrol betul, kalau tidak jalan maka kita tegor. Misalnya Blok Mahakam dan Blok Rokan bahwa Pertamina menjanjikan ini, kita harus kejar tidak hanya pasif menerima laporan. Bahwa dalam pelaksanaannya tidak seperti dijanjikan Pertamina (soal produksi), maka kita terus kejar dan memberi teguran jika tidak jalan.

Editor: Azis Husaini