Rupiah anjlok, begini harapan pelaku industri manufaktur



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin melemah dan diprediksi bakal terus turun dalam waktu dekat ini. Tentunya hal ini mempengaruhi kegiatan industri manufaktur, apalagi yang masih memperoleh bahan baku dari impor.

Seperti sektor industri farmasi, yang mana lebih dari 90% bahan baku alias raw material-nya berasal dari impor yang kebanyakan datang dari China dan India. Produsen obat dan produk kesehatan, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mengakui bahwa pelemahan rupiah akan berakibat peningkatan biaya produksi.

Baca Juga: Virus corona dan pelemahan rupiah jadi pukulan telak industri mainan dalam negeri


"Rupiah yang melemah akan menaikkan biaya impor bahan baku dalam jangka tertentu," ujar Vidjongtius, Presiden Direktur KLBF kepada Kontan.co.id, Rabu (25/3). Lebih lanjut ia bilang jika kondisi ini terjadi dalam jangka pendek maka kondisinya dapat minimal, namun sebaliknya jika lama dampak yang terasa cukup besar.

Menurut Vidjongtius, budget kurs tahun ini telah ditetapkan di akhir tahun kemarin yakni berada pada level Rp 14.200 sampai dengan Rp 14.500 per satu dolar AS. Namun ia belum dapat merincikan apakah akan ada perubahan nilai acuan kurs di tengah kondisi pandemi virus corona ini.

Perusahaan pun belum melakukan opsi menaikkan harga jual sampai saat ini. "Kami punya kebijakan untuk mengelola persediaan bahan baku untuk 3-4 bulan serta saldo kas dalam mata uang asing untuk impor bahan baku tersebut," sebut Vidjongtius.

Baca Juga: Dari industri makanan-minuman sampai mainan resah dengan pelemahan rupiah

Sementara itu bagi industri kaca lembaran, meroketnya nilai tukar dolar AS berpotensi menjadi peluang yang baik bagi bisnis sektor tersebut. Menurut Yustinus Gunawan, Ketua Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) melemahnya kurs rupiah seharusnya dapat menggerakkan Produsen kaca lembaran untuk mengekspor lebih banyak.

Editor: Tendi Mahadi