Saat pandemi corona alami demam dan batuk, kapan harus ke dokter?



KONTAN.CO.ID - Di tengah pandemi virus corona, banyak orang yang merasakan gejala pernapasan yang lebih ringan mungkin ragu-ragu untuk segera ke dokter. Sebab, mereka tidak yakin, apakah mereka benar-benar sakit.

“Sangat umum bagi seseorang pada fase awal munculnya gejala untuk tidak yakin, apakah itu awal dari flu atau apakah itu hanya, katakanlah, tenggorokan kering karena sedikit dehidrasi,” kata Wakil Dekan Bidang Penelitian National University of Singapore (NUS) Associate Professor Alex Cook.

“Apa yang akan memicu saya untuk memeriksanya adalah jika saya memiliki banyak gejala, jadi itu mungkin infeksi dan bukan kelelahan atau sesuatu, atau jika gejala tersebut bertahan lebih lama dari satu atau dua hari. Dalam hal ini, penting untuk memeriksanya," ujarnya kepada Channel News Asia.


Banyak pasien dengan gejala ringan mungkin belum ingin ke dokter dulu karena mereka masih merasa sehat dan tidak ingin terkena virus corona saat berada di klinik atau rumahsakit.

Baca Juga: Kasus harian Indonesia tembus 12.000, waspada 7 gejala baru virus corona menurut WHO

“Butuh upaya untuk membuat janji, bepergian ke sana, dan menunggu. Alasan lainnya adalah kurangnya kesadaran, beberapa mungkin berpikir bahwa penderita COVID-19 harus mengalami demam dengan batuk,” kata Dr Ling Li Min, dokter penyakit menular di Klinik Rophi, kepada Channel News Asia.

Alasan tidak segera mengunjungi dokter

Secara umum, pasien dengan gejala infeksi saluran pernapasan akut ringan seringkali tidak segera mengunjungi dokter, menurut Dr John Cheng, Kepala Perawatan Primer di Healthway Medical Group.

“Saat ini, ada berbagai alasan mengapa beberapa pasien mungkin menunda mencari bantuan medis. Beberapa alasan termasuk takut mengambil tes PCR (polymerase chain reaction), atau bahkan hanya menghindari pergi ke klinik untuk penyakit ringan guna mengurangi risiko tertular (virus corona)," ungkap Cheng.

Tetapi, ada juga pasien yang mengunjungi klinik segera ketika mereka merasa sakit karena mereka lebih suka tidak mengambil risiko terkena infeksi yang lebih parah atau menginfeksi orang yang mereka cintai.

Baca Juga: Senjata melawan virus corona, berikut 8 cara dongkrak imunitas tubuh

Editor: S.S. Kurniawan