Saham-saham ini bisa dicermati seiring penguatan nilai tukar rupiah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah menguat di pasar spot pada Selasa (10/11) siang ini. Mengutip Bloomberg pada pukul 11.58 WIB, rupiah berada di level Rp 14.030 per dolar AS di pasar spot.

Sehingga rupiah menguat 0,25% dari penutupan perdagangan kemarin di level Rp 14.065 per dolar AS. Pada perdagangan Senin (9/11), rupiah ditutup menguat 145 poin atau 1,0% ke level level Rp 14.065 per dolar Amerika Serikat (AS). Menguatnya nilai tukar rupiah ini menjadi sentimen positif untuk emiten yang menggunakan dolar sebagai beban Harga Pokok Penjualan (HPP) atau importir.

Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Chris Apriliony mengamati, saham-saham yang berbasis impor akan diuntungkan dengan menguatnya rupiah seperti PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) dan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA).


Baca Juga: Pendapatan meningkat, Darma Henwa (DEWA) sukses bukukan laba per semester I-2020

Selain itu, perusahaan-perusahaan yang memegang hutang dalam bentuk dollar juga akan mendapat angin segar dari menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, misalnya saja PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI). Jika melihat laporan keuangan semester pertama tahun ini, total liabilitas ASRI mencapai Rp 11,52 triliun, yang terdiri dari liabilitas jangka pendek Rp 3,64 triliun dan jangka panjang Rp 7,88 triliun.

“Dengan hutang yang lebih ringan tentu dapat memberikan efek positif untuk ASRI ditambah juga penjualan properti di kuartal tiga ini mulai terlihat adanya peningkatan,” katanya, ketika dihubungi Kontan, Selasa (10/11).

Chris melihat, prospek dari saham-saham tersebut ke depan masih cukup baik, ambil contoh ERAA dengan menguatnya rupiah kemungkinan akan membukukan kinerja yang lebih baik, terlebih penjualan ERAA yang meningkat sejak 2020 ini.

Mengutip laporan keuangan perusahaan, ERAA mengantongi penjualan Rp 23,17 triliun hingga kuartal III 2020. Realisasi ini turun 1,86% secara year on year (yoy) dari sebelumnya Rp 23,61 triliun. Meski demikian, ERAA mencatat laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 295,12 miliar atau melesat 78,21% yoy dari sebelumnya Rp 165,6 miliar.

Baca Juga: Laba bersih Indocement (INTP) turun 5% di kuartal ketiga 2020

Selanjutnya, Chris menjelaskan, emiten produsen ban yakni GJTL pun terlihat cukup baik dengan harga karet yang kembali menguat dan penjualan mobil yang kembali meningkat, dengan demikian seharusnya berbanding lurus dengan peningkatan penjualan ban GJTL.

Untuk itu, Chris merekomendasikan buy saham-saham tersebut dengan target harga untuk GJTL Rp 640, ERAA dengan target Rp 2.200, dan ASRI dengan target Rp 220.

Editor: Tendi Mahadi