Satgas Covid-19: Masyarakat jangan melakukan mixing vaccines tanpa pengawasan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Masyarakat untuk tidak melakukan mixing vaccines atau menambah dosis vaksin Covid-19 sebagai booster tanpa pengawasan. Hal tersebut diungkapkan oleh Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito setelah mendapat update temuan ilmiah terkait kebijakan vaksinasi. 

Isu mengenai mixing vaccines dan tambahan dosis mengemuka di kalangan masyarakat seiring rencana pemerintah untuk pemberian dosis tambahan untuk tenaga kesehatan (nakes). 

Seperti diketahui, pemerintah ingin melakukan penyuntikkan booster dosis ketiga maupun mixing vaccines untuk nakes yang dinilai memiliki risiko penularan tertinggi karena intensitas dan lokasi beraktivitas yang erat kaitannya dengan fasilitas layanan kesehatan. 


“Saat ini beberapa negara juga melakukan hal yang sama, misalnya Thailand yang akan menyuntikkan vaksin AstraZeneca kepada nakes yang sudah mendapat dua kali dosis vaksin Sinovac demi proteksi tambahan. Tentunya, praktik ini dilakukan setelah studi klinis dilakukan terlebih dahulu,” ujar Wiku dalam rilis yang diterima Kompas.com, Rabu (14/7/2021). 

Baca Juga: 25% Wilayah Indonesia zona merah Covid-19 per 11 Juli , luar Jawa meningkat pesat

Meski demikian menurutnya masyarakat tak perlu risau soal itu. Berdasarkan beberapa penelitian, kekebalan yang ditimbulkan setelah vaksin Covid-19 dosis kedua dapat bertahan pada tubuh manusia dalam kurun beberapa bulan atau bahkan tahunan. Untuk jangka waktu bertahannya kekebalan akan bergantung pada kondisi tubuh masing-masing. 

Secara umum, dua kali dosis vaksin sudah cukup bagi masyarakat untuk membentuk kekebalan individu. Karenanya melakukan mixing vaccines atau penambahan dosis booster sendiri tidak disarankan. 

Baca Juga: Ada vaksinasi gratis di Bandara Soekarno-Hatta, catat lokasi dan waktu pelaksanaannya

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie