Sejarah Pala, buah berwarna kekuningan yang menarik penjajah datang ke Indonesia



KONTAN.CO.ID - Pala adalah buah berwarna kekuningan dengan biji hitam yang dilapisi selaput merah. Tanaman pala merupakan pohon hutan yang kecil, tinggi sekitar 18 meter dan termasuk dalam family Myristicaceae yang mempunyai sekitar 200 spesies. 

Tanaman ini tumbuh baik di bawah keteduhan pohon tinggi lainnya dan menjadi rempah-rempah paling langka di zamannya. Namun, buah ini lah yang menjadi tujuan pendatang dari berbagai bangsa menjejakkan kaki mereka di Kepulauan Banda, Maluku, ratusan tahun lalu.

Selama berabad lamanya, inilah satu-satunya tempat di dunia yang menghasilkan buah pala, dan dikirim jauh sekali ke berbagai belahan dunia. Dirangkum dari Indonesia.go.id, pada abad ke-6 nama pala sudah dikenal di Byzantium, 12 ribu kilometer jauhnya dari Banda. 


Pada tahun 1000 M, seorang dokter dari Persia, Ibnu Sina menulis tentang "jansi ban", atau "Kacang dari Banda". Lantas, seperti apa sejarah pala?

Baca Juga: Makan pepaya bisa meredakan asam lambung, benarkah?

Sejarah pala

Pala diperkenalkan di Eropa oleh pedagang Arab yang mengirimnya ke Venesia untuk kemudian dihidangkan di meja-meja para bangsawan Eropa.  Pada abad ke-14 harga pala sangat fantastis. Di Jerman disebutkan bahwa 1 pon pala, dihargai setinggi "Seven Fat Oxen", atau "Tujuh Sapi Jantan Dewasa yang Gemuk".

Kemudian, awal mula perburuan pala oleh orang-orang Eropa terjadi saat adanya embargo perdagangan yang dilakukan oleh Kekaisaran Turki Usmani. Pada 1453, Kekaisaran Turki Usmani menyerang dan mengalahkan Konstantinopel (kini Istanbul). 

Kemudian mereka mengembargo perdagangan yang melewati daerah baru kekuasaannya di mana selama ratusan tahun sebelumya, para pedagang Arab melewatinya untuk mengirim pala ke Venesia. Embargo inilah yang menghentikan suplai Pala ke Eropa. Hal ini pedagang dan orang-orang Eropa mencari sendiri asal-usul buah pala yang selama ini sering disebut sebagai Fabled Land, atau negeri dongeng, melalui rute ke timur.

Pada 1511, Alfonso de Albuquerque menyerang pulau-pulau di kepulauan Maluku, termasuk di dalamnya Banda. Dia membangun benteng-benteng untuk mengkonsolidasikan monopoli atas perdagangan Pala hingga seabad kemudian.

Baca Juga: Kunyit obat asam lambung herbal, begini aturan konsumsinya