Sekitar 10% produk reksadana saham bergerak anomali



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sekitar 10% dari total reksadana diindikasikan sebagai reksadana anomali atau bergerak di luar kewajaran. Kebanyakan dari reksadana tersebut merupakan produk reksadana saham, dan beberapa dari reksadana campuran.

Berdasarkan data yang dimiliki Kontan, disinyalir terdapat sekitar 37 reksadana yang diduga bermasalah dan konon tengah diselidiki OJK. Jumlah tersebut berasal dari berbagai macam manajemen investasi, beberapa di antaranya Millenium Capital Management, Treasure Fund Investama, Emco Asset Management, Maybank Asset Management, ada juga Sinarmas Asset Management, dan masih banyak lagi.

Baca Juga: IHSG melejit, yuk cek PER dan PBV 20 saham LQ45 berikut


Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menyebutkan dari 330 reksadana yang ada saat ini, sebanyak 10% atau sekitar 37 reksadana dicurigai mengalami anomali. Artinya, produk reksadana tersebut mencatatkan penurunan lebih dari 40%.

"Kalau mengasumsikan reksadana yang jatuhnya sangat dalam di atas 20% year to date (ytd), dana kelolaannya di atas Rp 19 triliun," kata Wawan kepada Kontan.co.id, Sabtu (30/11).

Wawan menjelaskan, ada tiga alasan mengapa 10% reksadana Tanah Air bergerak anomali. Pertama, pergerakan reksadana saham sudah by design (dirancang). Umumnya, reksadana by design itu dimiliki oleh single investor untuk memindahkan kerugiannya.

Baca Juga: Simak rekomendasi analis untuk saham berkapitalisasi kecil yang dilepas Minna Padi

Kedua, Wawan menyinggung kasus reksadana yang terjadi pada Narada Minna Padi. Umumnya, reksadana seperti ini dikelola secara tidak prudent, salah satunya dengan masuk ke saham-saham berisiko tinggi dan cenderung pergerakan harganya dimanipulasi.

Penyebab ketiga, ada kemungkinan bahwa Manajemen Investasi terlalu berani untuk mengambil atau menempatkan investasinya di aset-aset yang berisiko.

Berdasarkan data yang dimiliki Kontan.co.id, beberapa produk reksadana Emco Asset Management tercatat anjlok antara 43% dan 47% (ytd) per 25 November 2019.

Baca Juga: Membenahi Reksadana

Wawan menilai penurunan tersebut menimbulkan dugaan bahwa isi dari reksadana tersebut adalah saham-saham yang terkena auto reject bawah, dan bisa saja terkait dengan Narada.

Editor: Yudho Winarto