Semen Baturaja (SMBR) Bidik Pertumbuhan Pendapatan dan Laba Dobel Digit pada 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) membidik pertumbuhan pendapatan dan laba bersih dengan level dobel digit pada tahun 2026.

Anak usaha dari Semen Indonesia Group (SIG) ini menyiapkan sejumlah strategi untuk mendongkrak volume penjualan dan menjaga daya saing di tengah industri semen yang masih kompetitif. 

Corporate Secretary Semen Baturaja, Hari Liandu belum membuka gambaran kinerja pendapatan dan laba bersih SMBR sepanjang tahun 2025.


Baca Juga: Laba Melejit 310,83%, Semen Baturaja (SMBR) Lampaui Target Kinerja 2025

Hari hanya membeberkan bahwa realisasi volume produksi dan penjualan semen SMBR pada tahun 2025 mencapai sekitar 2,46 juta ton.

Jumlah itu mencerminkan kenaikan sekitar 10% dibandingkan tahun 2024. Sedangkan untuk tahun 2026, SMBR ingin menjaga stabilitas volume produksi seperti pada tahun 2025.

Namun untuk volume penjualan, SMBR menargetkan bisa mencapai pertumbuhan sekitar 12,6% dibandingkan tahun lalu.

 
SMBR Chart by TradingView

Dengan estimasi tersebut, Hari memproyeksikan pendapatan SMBR pada tahun 2026 bisa meningkat sebesar 13,6%. Sedangkan laba bersih SMBR diproyeksikan bisa tumbuh sekitar 57% dibandingkan tahun 2025.

Baca Juga: Semen Baturaja (SMBR) Perkuat Strategi Bisnis dengan Penambahan Bidang Usaha

Wilayah Sumatra Bagian Selatan (Sumbagsel) masih menjadi basis pasar utama bagi SMBR. Hari menggambarkan pada tahun lalu, pangsa pasar (market share) SMBR di wilayah Sumbagsel mencapai sekitar 34%.

"SMBR melihat peluang kuat di wilayah Sumbagsel yang menjadi basis penjualan utama, dimana permintaan sering lebih stabil atau bahkan meningkat dibandingkan tren nasional," kata Hari kepada Kontan.co.id, Minggu (25/1/2026).

SMBR akan fokus pada produk inovatif seperti semen Portland Composite Cement (PCC) yang lebih rendah carbon. SMBR juga mengembangkan bisnis white clay dan limestone untuk menambah pendapatan selain semen.

"Sinergi operasional dengan SIG membantu efisiensi distribusi, logistik dan biaya, yang memperkuat posisi SMBR dalam pasar yang kompetitif," imbuh Hari.

Tantangan & Peluang pada 2026

SMBR pun telah memetakan sejumlah tantangan dan peluang yang bakal mengiringi industri semen pada tahun ini. Hari menyoroti tantangan dari permintaan semen di Indonesia yang menunjukkan tren kontraksi pada beberapa tahun terakhir. 

Kondisi ini antara lain disebabkan melambatnya proyek konstruksi dan penurunan pembelian semen di sejumlah wilayah besar seperti Jawa dan Kalimantan. Sementara itu, kapasitas produksi nasional masih jauh melebihi permintaan domestik, yang menyulitkan utilisasi pabrik dan menekan harga serta margin keuntungan.

Baca Juga: Strategi Semen Baturaja (SMBR) Pasca Cetak Lonjakan Kinerja pada Semester I-2025

Menimbang kondisi di industri semen tersebut, SMBR mewasdapai tiga tantangan. Pertama, oversupply industri yang menyebabkan kompetisi harga dan utilitas pabrik. Kedua, aktivitas konstruksi di wilayah tertentu masih lambat, sehingga menekan angka penjualan semen.

Ketiga, biaya energi dan logistik yang masih menjadi faktor penekan. Di tengah berbagai tantangan tersebut, SMBR melirik tiga peluang untuk mendongkrak performa bisnis pada tahun ini.