Sentimen bank digital mendorong pergerakan saham-saham bank berikut ini



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK) berencana untuk melakukan penambahan modal tahun ini. Perseroan ini telah mendapat izin dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 28 Mei 2021 menggelar rights issue dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 2 miliar lembar saham. Ke depannya, bank ini berencana untuk melakukan transformasi menjadi bank digital.

Pada perdagangan hari ini Rabu (23/6), saham BANK melesat hingga 5,50% ke harga Rp 3.450 per saham. Selain itu, sejumlah saham perbankan yang bertransformasi menjadi bank digital juga mengalami kenaikan.

Saham PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) juga meningkat 1,63% ke harga Rp 250 per saham. Kemudian saham grup Salim yakni PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) menguat 2,29% ke harga Rp 4.920 per saham.


Sementara itu, saham digital lainnya seperti PT Bank Jago Tbk (ARTO) turun 6,90% ke harga Rp 13.825 per saham, PT Bank KB Kookmin Tbk (BBKP) terkoreksi 5,38% ke harga Rp 422 per saham, dan PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP) terkoreksi 6,43% ke harga Rp 320 per saham.

Baca Juga: Berkah pandemi, transaksi dompet digital meningkat

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai, kenaikan saham-saham bank digital sejalan dengan harapan investor perbankan tersebut akan masuk dan bergabung dengan financial technology (fintech).

“Di saat ini kan rata-rata bank digital ini ada hubungan dengan fintech, yang memang dengan bisa masuk ke ekosistem daripada fintech ini otomatis mereka akan mendapatkan banyak user,” ujarnya, Rabu (23/6).

Ke depannya, sambung Wawan, investor juga akan melihat pertumbuhan dari user perbankan digital tersebut. Sehingga, apabila dilihat dari valuasinya memang saham perbankan digital ini memang terbilang mahal. Hal ini lantaran investor melihat prospek di masa yang akan datang, dan bukan pendapatan saat ini.

Oleh karena itu, ia memandang harga saham perbankan digital ini akan sangat rentan dengan aksi profit taking apabila ada sentiment negatif, misalnya berupa penundaan atau yang lainnya. “Jadi investor juga harus waspada, saham digital ini prospeknya memang menarik, tapi dari sisi risiko juga tinggi,” tambah Wawan.

Baca Juga: Industri masih kontraksi, sederet bank ini catatkan pertumbuhan kredit pada bulan Mei

Editor: Noverius Laoli