Sentimen Extreme Fear Bayangi Penurunan Bitcoin, Berisiko Anjlok ke US$ 38.000?



KONTAN.CO.ID - Harga Bitcoin kembali melemah setelah para trader spekulatif mengalihkan perhatian ke lonjakan harga logam, terutama perak. Tekanan jual ini membuat aset kripto terbesar di dunia itu kembali tertekan usai sempat bangkit dari level terendah dalam 10 bulan.

Bloomberg melaporkan, Bitcoin sempat turun di bawah US$ 76.000, seiring kembalinya sentimen bearish yang hampir menyeret harganya ke posisi terendah sejak Presiden AS Donald Trump kembali ke Gedung Putih lebih dari setahun lalu.

Di tengah kondisi ini, platform derivatif kripto seperti Hyperliquid menjadi indikator pergeseran sentimen makro. Volume perdagangan kontrak berjangka perak (silver perpetual futures) di Hyperliquid tetap tinggi, dengan nilai transaksi lebih dari US$ 1 miliar dalam 24 jam terakhir, sekitar tiga kali lipat dibandingkan kontrak non-kripto terpopuler berikutnya yang berbasis harga emas.


Pasar derivatif kripto mengindikasikan potensi pelemahan lanjutan. Data dari CME dan Coinglass menunjukkan open interest atau jumlah kontrak berjangka yang masih terbuka anjlok selama akhir pekan. Selain itu, funding rate untuk kontrak perpetual berbalik negatif, menandakan meningkatnya minat terhadap posisi bearish.

Di pasar opsi, meski permintaan untuk put option sedikit mereda, konsentrasi harga strike menunjukkan pasar masih diliputi kekhawatiran. Data Deribit menunjukkan level US$ 75.000 menjadi area support utama. Bitcoin sempat turun hingga US$ 74.541 sebelum pulih. Support berikutnya berada di kisaran US$ 70.000.

Baca Juga: Mengejutkan! Indonesia 902 Kali Disebut Dokumen Epstein, Ada Apa?

“Pasar opsi BTC mulai menunjukkan tanda stabilisasi, namun jika penutupan mingguan berada di bawah US$ 75.000, maka reli saat ini bisa gagal dan membuka peluang penurunan ke area US$ 69.000–US$ 70.000,” ujar Sean McNulty, APAC derivatives trading lead di FalconX.

Sementara itu, arus keluar (outflow) dari ETF Bitcoin mencapai sekitar US$ 1,1 miliar sepanjang bulan ini, menurut Wintermute. Hal ini mencerminkan melemahnya permintaan di pasar spot.

Indeks volatilitas implisit Bitcoin masih tinggi di kisaran 48,8, menurut TradingView. Namun, beberapa pelaku pasar menilai pasar mulai mencoba rebound dari level terendah.

Baca Juga: UEA Rancang Hunian Sementara Palestina di Gaza Selatan yang Dikuasai Israel