KONTAN.CO.ID - Tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel mengguncang fondasi sistem teokrasi Republik Islam Iran. Peristiwa ini memunculkan pertanyaan besar mengenai kelangsungan sistem politik negara tersebut, termasuk siapa yang akan menggantikannya dan bagaimana proses transisi kekuasaan akan berlangsung di tengah situasi yang belum stabil.
Baca Juga: China Kecam Serangan ke Iran, Desak Gencatan Senjata dan Dialog Serangan dilaporkan masih menyasar tokoh-tokoh penting, termasuk ulama senior, anggota Garda Revolusi, serta penasihat lama Khamenei yang selama puluhan tahun memegang kendali pemerintahan. Melansir
Reuters Minggu (1/3/2026), sesuai konstitusi, sebuah komite sementara telah mengambil alih tugas pemimpin tertinggi hingga sosok pengganti resmi ditetapkan. Apa Itu Pemimpin Tertinggi Iran? Sistem teokrasi Iran berakar pada Revolusi 1979 yang menggulingkan Shah dan membawa Ayatollah Ruhollah Khomeini ke tampuk kekuasaan. Khomeini memperkenalkan konsep vilayat-e faqih atau “perwalian oleh ahli fikih”, yang menyatakan bahwa hingga kembalinya Imam ke-12 dalam keyakinan Syiah yang diyakini menghilang pada abad ke-9 kekuasaan tertinggi di bumi harus dipegang oleh seorang ulama terkemuka.
Baca Juga: Harga Minyak Diproyeksi Tembus US$ 100 per Barel di Awal Pekan! Dalam sistem ini, pemimpin tertinggi memiliki kewenangan paling besar dalam negara, mengarahkan presiden dan parlemen yang dipilih melalui pemilu. Sejak wafatnya Khomeini pada 1989, posisi tersebut dipegang oleh Khamenei, yang memiliki kata akhir dalam seluruh urusan negara. Namun, siapa pun penggantinya akan menghadapi tantangan besar di tengah gejolak politik dan keamanan. Siapa yang Memilih Pengganti? Konstitusi Iran menyebutkan bahwa pemimpin baru harus ditetapkan dalam waktu tiga bulan. Sementara itu, tugas kepemimpinan dijalankan oleh dewan sementara yang terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian, anggota Dewan Garda Alireza Arafi, dan Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni-Ejei.
Baca Juga: OPEC+ Naikkan Produksi 206.000 Bph di Tengah Gangguan Pasokan Akibat Konflik Iran Secara formal, pemilihan pemimpin tertinggi menjadi tanggung jawab Majelis Ahli, sebuah lembaga beranggotakan sekitar 90 ulama senior yang dipilih setiap delapan tahun. Namun, dengan situasi keamanan yang belum kondusif, belum jelas kapan dan bagaimana majelis tersebut dapat bersidang. Khamenei tidak pernah secara terbuka menunjuk penerus. Dalam praktiknya, keputusan kemungkinan besar akan dipengaruhi oleh elite senior Republik Islam yang telah lama berkuasa. Salah satu tokoh paling berpengaruh adalah Ali Larijani, penasihat senior Khamenei yang dikenal sebagai salah satu broker kekuasaan utama di Iran.