KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar pada 16-17 Maret 2026. Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Chory Agung Ramdhani menilai kondisi pasar keuangan saat ini masih berada dalam fase
wait and see, dengan perhatian utama tertuju pada stabilitas nilai tukar rupiah yang sebelumnya sempat tertekan di kisaran Rp16.850–Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Di tengah keputusan BI yang menahan suku bunga, pasar saham diperkirakan merespons netral hingga cenderung positif terbatas.
Menurut Chory, fokus investor selanjutnya akan mengarah pada narasi Gubernur BI terkait peluang pemangkasan suku bunga pada kuartal II-2026.
Baca Juga: Menakar Arah IHSG Usai BI Tahan Suku Bunga Acuan dan Saham Rekomendasi Analis “Jika BI memberikan sinyal yang lebih
dovish atau membuka peluang penurunan suku bunga hingga 4,25% pada akhir tahun, maka pasar saham berpotensi menguat secara bertahap,” ujarnya kepada Kontan. Selasa (17/3/2026). Secara teknikal, Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) pada perdagangan hari ini sempat dibuka
gap up, namun mengalami penolakan di area resistance 7.135–7.150. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan jual masih cukup dominan. Pola serupa juga terjadi pada 4 Maret lalu, ketika kenaikan di awal perdagangan tidak mampu berlanjut dan berakhir dengan koreksi. Dari sisi indikator teknikal, MACD membentuk
golden cross di area negatif, yang menandakan adanya peluang
rebound teknikal. Meski begitu, sinyal tersebut belum cukup kuat untuk mengonfirmasi pembalikan tren. Kenaikan indeks juga lebih banyak ditopang oleh saham sektor energi dengan volume perdagangan yang relatif rendah, menandakan reli masih minim partisipasi pelaku pasar.
Baca Juga: IHSG Diprediksi Sideways Jangka Pendek dan Menengah, Cermati Saham Pilihan Analis Selama IHSG belum mampu menembus level 7.150, pergerakan indeks diperkirakan masih berada dalam fase
rebound terbatas dan berpotensi kembali tertekan. Chory mengungkapkan level teknikal IHSG yang perlu diperhatikan antara lain:
support di level 7.000 – 6.950,
resistance pada posisi 7.135 – 7.150 dan konfirmasi
rebound jangka pendek, jika tembus di atas 7.150 dengan target 7.200–7.250. "Dengan kondisi tersebut, IHSG masih berada dalam tren turun dengan peluang
rebound jangka pendek, namun belum terdapat konfirmasi pembalikan arah yang kuat," ucapnya.
Arus Dana Asing Masih Sensitif Chory menambahkan, kebijakan suku bunga tetap menjadi faktor penting dalam menentukan
yield spread bagi investor global. Dalam konteks ini, stabilitas nilai tukar rupiah menjadi aspek yang krusial.
Selama BI mampu menjaga stabilitas rupiah melalui instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), aliran dana asing diperkirakan masih akan bertahan di pasar domestik.
Baca Juga: IHSG Rebound ke 7.100-an, Analis Sarankan Sikap Defensif Jelang Libur Panjang Apalagi jika BI mempertahankan suku bunga di 4,75% sementara sejumlah bank sentral global mulai menurunkan suku bunga, maka aset portofolio Indonesia, baik saham maupun obligasi, akan terlihat lebih menarik secara relatif bagi investor global. Namun demikian, risiko tetap ada. Jika inflasi domestik meningkat, misalnya akibat lonjakan konsumsi selama Ramadan dan Idul Fitri, sementara BI dinilai terlambat merespons, investor asing berpotensi melakukan aksi jual, khususnya pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti sektor perbankan.