Simak Rekomendasi Saham Emiten-Emiten yang Berpotensi Raih Pendapatan Jumbo



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten digadang-gadang bakal membukukan pendapatan lebih dari Rp 100 triliun pada tahun buku 2022. Selain yang sudah langganan masuk di dalam daftar, beberapa emiten siap merangsek ke jajaran perusahaan dengan penghasilan terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Menghimpun konsensus analis, emiten yang diproyeksikan mengantongi pendapatan paling jumbo sepanjang 2022 adalah PT Astra International Tbk (ASII) dengan estimasi top line Rp 287,43 triliun. ASII ada di posisi puncak mengingat per kuartal ketiga 2022 saja pendapatan bersihnya sudah menyentuh Rp 221,35 triliun.

Selanjutnya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dengan estimasi Rp 172,41 triliun, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dengan proyeksi Rp 148,55 triliun, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang pendapatannya diproyeksikan Rp 120,86 triliun.


Di daftar berikutnya ada anak usaha ASII, PT United Tractors Tbk (UNTR) dengan estimasi Rp 120,74 triliun. Lalu, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dengan proyeksi Rp 110,07 triliun, dan PT H.M Sampoerna Tbk (HMSP) yang pendapatannya diestimasikan menyentuh Rp 109,64 triliun sepanjang 2022.

Baca Juga: Bisnis Ritel Diprediksi Tumbuh Positif pada 2023, Cermati Saham Rekomendasi Analis

Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto menyoroti, hanya segelintir emiten di BEI yang mampu membukukan pendapatan di atas Rp 100 triliun. Selain emiten di atas, Pandhu memprediksi PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) bakal meraih revenue Rp 100 triliun lebih pada 2022.

Estimasi Pandhu, GGRM bisa mengantongi pendapatan Rp 125 triliun dan ADRO membukukan Rp 122 triliun dalam laporan tahun buku 2022. Secara historis, ASII, BBRI, BMRI, TLKM, GGRM, dan HMSP sudah punya rekam jejak mencetak top line di atas Rp 100 triliun dalam setahun.

"Sedangkan INDF, UNTR dan ADRO kemungkinan baru (pada tahun buku 2022). Kinerja mereka ditopang oleh moncernya harga komoditas dan semakin pulihnya ekonomi Indonesia," terang Pandhu kepada Kontan.co.id, Minggu (29/1).

Catatan serupa disampaikan oleh Research & Consulting Manager Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro. Dia membeberkan, emiten yang cukup stabil mencatatkan revenue di atas Rp 100 triliun adalah ASII, TLKM, BMRI, BBRI, dan GGRM.

HMSP sempat membukukan revenue di atas Rp 100 triliun pada tahun 2018-2019, namun menurun pada 2020 dan 2021. Nico turut melihat peluang pendapatan HMSP kembali menembus Rp 100 triliun pada tahun buku 2022.

CEO Edvisor.id Praska Putrantyo menganalisa emiten di sektor perbankan, infrastruktur telekomunikasi, dan barang konsumen memiliki kinerja bisnis yang lebih stabil dibandingkan sektor lainnya. Hal ini sejalan dengan kebutuhan masyarakat serta sektor yang menopang pertumbuhan ekonomi di sektor riil.

Sedangkan sektor lain seperti komoditas memang punya akselerasi pertumbuhan yang tinggi. Namun lebih bersifat momentum sektoral saja, termasuk industri penunjang seperti perdagangan alat berat.

Nico menambahkan, mayoritas dari emiten yang disebutkan di atas memiliki pertumbuhan yang cukup berkelanjutan, kecuali saat terjadi pandemi covid-19 tahun 2020. Nico menyoroti revenue UNTR sudah terlihat meningkat secara bertahap sejak kuartal pertama hingga kuartal ketiga 2022.

"Hasil itu berkat penjualan mesin konstruksi  dan dari lini bisnis kontraktor penambangan yang signifikan, seiring kenaikan harga rata-rata batubara tahun 2022," terang Nico.

Baca Juga: Masuk Jajaran Indeks LQ45, Saham Sido Muncul (SIDO) Bakal Mempesona

Selanjutnya, Nico melihat INDF dan HMSP bisnisnya terdongkrak tingkat pemulihan ekonomi dan konsumsi masyarakat. Kenaikan revenue INDF ditopang oleh bisnis produk bermerek yang dijalankan oleh anak usaha, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

Sedangkan revenue HMSP didorong oleh kenaikan penjualan sigaret di pasar lokal maupun ekspor. Secara umum, Nico menaksir emiten yang mampu membukukan pendapatan di atas Rp 100 triliun pada tahun buku 2022, berpeluang mempertahankan kinerja bisnisnya pada tahun 2023.

Katalis pendukungnya adalah kebijakan bank sentral global yang tidak seagresif tahun lalu, sentimen re-opening China, harga komoditas yang masih berada di level tinggi, serta ekonomi makro dalam negeri yang masih kondusif.

"Tantangannya lebih kepada masih adanya bayang-bayang perlambatan ekonomi global yang bisa menahan demand, serta risiko di setiap sektor seperti kenaikan tarif cukai pada sektor rokok," imbuh Nico.

 
ASII Chart by TradingView

Editor: Tendi Mahadi