Simak strategi perbankan mengelola dana pihak ketiga (DPK) pada tahun ini



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan mengalami pertumbuhan cukup tinggi tahun lalu. Bank-bank besar akan tetap memperkuat rasio dana murah (CASA) sebagai strategi menyeimbangkan biaya dana (cost of fund) pada tahun ini.

Adapun, total dana pihak ketiga (DPK) Himbara pada 2020 sebesar Rp 3.127,03 triliun pada 2020, atau tumbuh 11,92% secara yoy. Kenaikan DPK tertinggi dicatatkan oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. sebesar 23,84% secara yoy, diikuti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. sebesar 12,24% yoy, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. sebesar 10,61% yoy, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. sebesar 9,78% yoy.

Kenaikan DPK ditopang peningkatan dana murah (CASA) yang tumbuh dua digit. Alhasil, bank mampu menekan biaya dana sepanjang tahun lalu sejalan dengan penurunan suku bunga acuan. 


Pertumbuhan dana bank kecil dan menengah juga masih ditopang oleh kenaikan dana mahal. Apalagi porsi dana di kelompok bank ini memang masih didominasi deposito. Berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia, DPK perbankan tercatat tumbuh 11,3% per November 2020. 

DPK Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) III tercatat naik 4,4%, BUKU II tumbuh 8,2%,  sedangkan BUKU I turun 57,4% seiring dengan berkurangnya jumlah bank di kelompok ini karena naik kelas. 

Rasio dana murah atau Current Account Savings Account (CASA) bank BUKU III ada di level 44,9% pada periode tersebut, sedikit naik dari periode November 2019 yakni 43,9%. CASA bank BUKU II turun dari 46,9% ke 46,1%. Adapun rasio dana murah bank BUKU I mencapai 42,04%.

Tren penurunan biaya dana bank juga ditunjukkan dalam laporan Bank Indonesia tentang Survei Perbankan. Cost of funds pada kuartal IV/2020 sebesar 4,70%, atau turun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,87%. Realisasi tersebut lebih rendah dari angka prakiraan BI sebesar 5,21%. Adapun, pada kuartal I/2021 cost of fund diperkirakan sebesar 4,71%. 

Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri Panji Irawan mengatakan, selama bulan Januari 2021, DPK perbankan tumbuh 10,57% YoY. Hal tersebut didorong oleh stimulus fiskal pemerintah dan bauran kebijakan otoritas moneter & fiskal yang akomodatif.

Baca Juga: Indeks saham sektor finansial naik tinggi, indeks sektor konsumer paling tertekan

Sementara sampai dengan Desember 2020, dana pihak ketiga Bank Mandiri mencapai Rp 1.047,3 triliun atau tumbuh 12,24% yoy. Pertumbuhan tersebut didorong oleh pertumbuhan giro mencapai 20,13% yoy atau mencapai Rp284 triliun.

"Adapun akibat terdampak pandemi covid-19, sisi permintaan kredit dunia bisnis masih lemah, yang pada Januari terkontraksi 1,92% YoY," kata Panji kepada kontan.co.id, Jumat (28/2).

Menghadapi kondisi tersebut, di sisi DPK, perbankan melakukan strategi efisiensi opex & cost of fund yang terlihat dari tren penurunan suku bunga deposito in line mengikuti penurunan suku bunga acuan. 

Selain itu, memperkuat rasio dana murah (CASA Ratio) melalui peningkatan layanan digital banking dan Mandiri Cash Management. Bank Mandiri saat ini telah bekerja sama dengan beberapa e-commerce untuk melayani berbagai transaksi pembayaran serta pengelolaan kas operasional perusahaan melalui strategi value chain.

Di sisi aset, investasi pada instrumen obligasi merupakan manajemen strategi pengelolaan likuiditas perbankan. Sepanjang tahun 2021, Investasi perbankan pada obligasi negara tumbuh 68.8 triliun "Ke depannya, vaksin Covid 19 akan  menjadi game changer mendorong pemulihan ekonomi dan peningkatan demand kredit yang diproyeksikan tumbuh di kisaran 6%-8%," ujar Panji.

Corporate Secretary PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Aestika Oryza Gunarto menyampaikan, strategi pengelolaan DPK BRI di tahun ini tetap akan difokuskan pada dana murah (CASA), melalui berbagai inovasi digital serta terus mendorong transaction banking, diantaranya melalui pengembangan platform simpanan berbasis digital dan micropayment system. 

"Tahun ini kami proyeksikan tren penurunan CoF akan terus berlanjut, dengan kita jaga di kisaran 2,75%-3%," katanya.

Hingga akhir kuartal IV-2020, DPK BRI tercatat Rp 1.121,10 triliun atau tumbuh sebesar 9,78% yoy. Dana murah atau CASA masih mendominasi portofolio simpanan BRI, dengan rasio CASA mencapai 59,67% dari total DPK atau senilai Rp 668,93 Triliun, dan ke depan rasio CASA BRI akan terus ditingkatkan. 

Editor: Handoyo .