Simak tips cuan di pasar saham dari Direktur Keuangan Reliance Sekuritas Wilson Sofan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keinginan Wilson Sofan untuk berinvestasi berangkat dari pemikiran: bisnis apa yang tidak memerlukan banyak orang dan modal yang terlalu besar, tetapi bisa mendatangkan penghasilan 5%-10% per bulan. Pemikiran ini membawanya langsung mencoba berinvestasi di futures setelah lulus kuliah S1 jurusan teknik elektro pada pertengahan 2007.

Tapi, pengalaman investasi pertamanya itu berakhir pahit. Dia menelan rugi cukup besar. Bagi dia yang baru belajar, risiko berinvestasi di instrumen keuangan derivatif ini terlalu besar.

Akhirnya, pada penghujung tahun 2007, dia beralih untuk berinvestasi di pasar modal. Saham menjadi pilihan pertamanya. Hal ini ditunjang oleh keterlibatannya dalam suatu lembaga pendidikan untuk analisis teknikal pasar modal.


Seiring berjalannya waktu, Wilson terus mempelajari ilmu baru, meningkatkan kemampuan, serta mengasah psikologisnya dalam berinvestasi saham. Hingga pada tahun 2012, ia menemukan pola yang bagus baginya untuk meraih sukses dalam menanamkan modalnya di saham.

Baca Juga: Rugi ratusan juta tak bikin Direktur Solid Gold Dikki Soetopo kapok berinvestasi

Dia membagi tiga investasi sahamnya menjadi tiga jenis: trading, nabung, dan spekulasi. Untuk trading, investasi dilakukan dengan memperhatikan kondisi dan momentum pasar saham serta kondisi makroekonomi. Pada jenis ini, dia membatasi kepemilikannya hanya pada sembilan saham yang dibedakan berdasarkan unsur risikonya.

Cara membagi risiko ini dilakukan dengan memilih saham dari sektor bisnis dan kapitalisasi pasar yang berbeda-beda. Saham-saham Wilson untuk trading terdiri dari super blue chips, blue chips, dan mid cap. "Perlu diversifikasi untuk membagi risiko. Ibaratnya, jangan menaruh telur di kantung yang sama. Tidak boleh berat sebelah," ungkap Wilson beberapa waktu lalu.

Menurut dia, sejak 2012 hingga saat ini, sembilan saham tersebut menjadi saham yang selalu dia transaksikan dengan perubahan satu sampai dengan dua saham. Dananya pada saham untuk trading mencakup 50% dari investasi saham Wilson.

Baca Juga: Agar tak jadi korban investasi ilegal, hindari tawaran dengan janji surga

Kemudian, untuk jenis nabung saham, investasi dilakukan dalam jangka panjang dengan horizon waktu lima sampai dengan sepuluh tahun. Saham yang dipilih merupakan growing stock, yakni saham perusahaan yang baru masuk bursa atau bisnisnya belum berjalan lama. Meskipun begitu, menurut Wilson, growing stock suatu ketika bisa naik eksponensial seiring dengan bisnis perusahaannya yang kian matang.

Pemilihan saham ini menggunakan penilaian yang sangat fundamental. Mulai dari identifikasi sumber penghasilan perusahaan, manajemen, hingga pendiri perusahaan. Sumber penghasilan menjadi penting untuk melihat apakah bisnis perusahaan tersebut saat ini sedang naik daun, stagnan, atau bahkan sunset. "Yang saya pilih adalah saham yang bisnis ke depannya terus berkembang dan produk atau jasanya selalu dibutuhkan masyarakat," ungkap Wilson.

Baca Juga: Budi Frensidy: Sebaiknya kita tunggu pasar rebound untuk masuk

Editor: Wahyu T.Rahmawati