SMI beberkan dampak perekonomian Tol Trans Sumatera, begini gambarannya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) adalah salah satu Proyek Prioritas Pemerintah yang pembangunannya dimulai sejak tahun 2015 dan direncanakan akan terbangun sepanjang 2.812 km membentang hingga ujung Pulau Sumatera dengan nilai investasi sebesar Rp 538 triliun.

Proyek ini dibangun dengan tujuan membuka sentra-sentra ekonomi baru yang dapat terbangun dari kawasan industri serta mampu menjadi akses utama dalam menghubungkan berbagai provinsi di Pulau Sumatera.

Hingga saat ini, ruas yang telah beroperasi adalah sepanjang 531 km. Sebagai special mission vehicle, Kementerian Keuangan (Kemenkeu), PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero)  atau PT SMI terlibat aktif dalam pembiayaan pembangunan lima ruas Jalan Tol Trans Sumatera ini dengan nilai komitmen sebesar Rp18,5 triliun.


Baca Juga: Percepat proyek jalan tol Trans Sumatra, Hutama Karya dapat PMN Rp 6,2 triliun

PT SMI memberikan dukungan pembiayaan terhadap lima ruas Jalan Tol Trans Sumatera yang telah beroperasi saat ini. Ruas-ruas yang dibiayai secara langsung oleh PT SMI, yaitu Medan-Binjai, Palembang-Indralaya, Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung, Bakauheni-Terbanggi Besar serta pemenuhan porsi ekuitas untuk ruas Pekanbaru-Dumai yang dibiayai secara tidak langsung melalui sekuritisasi aset Tol Akses Tanjung Priok.

"Kami berharap dengan pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera ini, dapat membantu menggerakkan roda perekonomian Indonesia khususnya di Pulau Sumatera agar dapat terus bertumbuh," kata Sylvi J. Gani, Direktur Pembiayaan dan Investasi PT SMI dalam acara media briefing yang diselenggarakan secara daring oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kemenkeu, Jumat (20/8).

Lebih lanjut, Sylvi memaparkan temuan hasil riset dari tim riset ekonomi PT SMI, pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera memberikan dampak multiplier terhadap output dalam perekonomian sebesar 1.70 kali dari total pengeluaran pada masa konstruksi dan juga proyeksi pendapatan pada masa operasional proyek.

Editor: Yudho Winarto